Take a fresh look at your lifestyle.

Etnomatematika, Sang Penyelamat Siswa dari Miskonsepsi Matematika

Perbaiki konsep dengan hal yang familiar...

Assalamu’alaikum Warahamtaullahi Wabarakatuh.

Halo sobat baca, semoga dalam keadaan sehat selalu ya.

Kali ini kita akan membagikan sedikit ilmu nih mengenai etnomatematika, penasaran? Yuk simak lebih lanjut.

Dalam proses belajar dan mengajar, tidak serta merta selalu lancar tanpa adanya hambatan. Pasti muncul berbagai hal yang mengganggu proses belajar mengajar tersebut. Apalagi dalam pembelajaran matematika, dimana kita ketahui bahwa matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang mendasari berbagai disiplin ilmu lainnya, oleh karena itu matematika sering disebut sebagai “Mother of Science”. Salah satu bentuk nyata dari adanya hambatan dan ganggu pada pembelajaran matematika adalah munculnya ketidakselarasan antara materi yang disajikan dengan pemahaman siswa mengenai materi tersebut, hal semacam ini biasa dikenal dengan miskonsepsi. Sebelumnya, apa sih yang dinamakan miskonsepsi itu?.

Miskonsepsi itu sendiri merupakan kesalahan konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang didefinisikan ataupun dipahami oleh para pakar dalam disiplin ilmu pada bidang tertentu. Bentuk miskonsepsi dapat berupa pemahaman konsep awal, kesalahan hubungan antar konsep, gagasan intuitif, pandangan naif atau menerima mentah-mentah apa yang didapatkan. Terdapat beberapa faktor penyebab dari miskonsepsi tersebut, antara lain berasal dari siswa itu sendiri, pengajar atau guru, buku teks sebagai pedoman, ketidaksesuaian konteks, serta cara mengajar guru yang salah dimana terdapat kecenderungan untuk meniru apa yang sudah ada dan menjadi ketetapan walaupun salah.

Mengapa kasus miskonsepsi matematika perlu mendapatkan perhatian? Hal ini dikarenakan, miskonsepsi yang terjadi kepada siswa khususnya pada mata pelajaran matematika nantinya akan berdampak terhadap kemampuan numerasi siswa, yang mana pada faktanya Indonesia sendiri menduduki peringkat bawah dalam hal numerasi. Dilansir dari survey yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) dan dirilis oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) pada tahun 2018, menunjukkan Indonesia berasa pada peringkat 73 dari total peserta survey dengan skor 379. Mencengangkan bukan? Hal tersebutlah yang menjadi latar belakang mengapa miskonsepsi harus segera ditindak.

Salah satu bentuk miskonsepsi matematik adalah pada pembelajaran geometri, khususnya pada Segi Empat. Misalnya siswa diberikan beberapa bentuk segi empat dilanjutkan pertanyaan mana bentuk dari jajar genjang? Pasti sebagian siswa hanya menjawab satu bentuk jajar genjang, hal tersebut sudah dianggap identik oleh siswa karena pengajaran guru yang salah konsep, hal ini merupakan salah satu penyebab cikal bakal adanya miskonsepsi, masih banyak miskonsepsi yang ada.

Baca Juga:  Fatwa Radikal

Sebagai pelaku pendidikan, miskonsepsi bukan menjadi hal yang baru dan tabu, miskonsepsi sering terjadi kepada siswa, terlebih lagi pada mata pelajaran matematika yang sejatinya perlu menggunakan model pembelajaran yang sesuai oleh guru atau pengajar dan juga pemahaman mendalam yang dibangun oleh siswa itu sendiri melalui proses pengajaran. Konsep matematika harus disajikan dengan penuh kehati-hatian dan dengan diperlukannya media untuk menyampaikannya agar tidak terjadi miskonsepsi. Salah satu media yang kami rasa mampu dijadikan sebagai upaya untuk menurunkan tingkat miskonsepsi sembari meningkatkan kemampuan numerasi siswa, yaitu dengan pemberlakuan pembelajaran matematika berbasis Etnomatematika. Nah apakah sobat baca sudah tau apa itu Etnomatematika?.

Istilah Ethnomathematics dalam bahasa Indonesia disebut dengan etnomatematika yang pertama kali diperkenalkan oleh D’Ambrosio, seorang matematikawan Brazil pada tahun 1977. D’Ambrosio (dalam Dominikus, 2018) menyebutkan bahwa etnomatematika disebut sebagai praktik matematika dalam budaya yang tanpa ekspresi tertulis dari masyarakat yang sebelumnya dicap sebagai masyarakat primitif atau kuno. Saat ini masyarakat yang sebelumnya dicap sebagai masyarakat primitif atau kuno kini sudah menjadi bidang penelitian tentang hubungan antara budaya dengan matematika dan berperan penting dalam pendidikan matematika. Menurut D’Ambrosio (1985) etnomatematika merupakan “In contrast to this we will call ethnomathemaics the mathematics which is practised among identifiable cultural groups, such as national-tribal societies, labor groups, children of a certain age bracket, professional classes, and so on”. Etnomatematika sebagai matematika yang dipraktikan diberbagai kelompok budaya seperti masyarakat suku bangsa, kelompok pekerja, anak-anak kelompok usia tertentu, kelompok profesional, dan lainnya. Dari berbagai kelompok budaya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya ini akan menghasilkan bentuk matematika yang berbeda pula, karena setiap budaya mempunyai karakteristiknya masing-masing. Pengertian etnomatematika terus mengalami perkembangan dan perubahan sejak pertama kali diperkenalkan oleh D’Ambrosio. Perubahan tersebut terkait dengan makna budaya atau kelompok budaya yang menjadi area penelitian etnomatematika. Etnomatematika yang berawal dari kata etno memiliki makna tertentu, D’Ambrosio & Francois (dalam Dominikus, 2018) menyebutkan bahwa makna kata etno tersebut tidak hanya terkait dengan etnis atau kelompok budaya saja tetapi juga termasuk hal lain dalam budaya masyarakat seperti jargon, kode, simbol, mitos, bahkan cara-cara tertentu yang digunakan masyarakat untuk bernalar dalam menyimpulkan. Contoh penerapan etnomatematika, antara lain  :

  1. Permainan Engklek.

 

Permainan engklek merupakan permainan tradisional di Indonesia dengan berbagai variasi nama serta aturan yang berbeda-beda. Pada permainan engklek ditemukan adanya hubungan antara urutan pemain dengan matematika yang memiliki unsur matematika peluang. Pada keempat pemain terdapat unsur peluang yang digunakan untuk menentukan urutan pemain. Pola urutan permainan umumnya dikakukan dengan melakukan hompimpa. Dengan menggunakan rumus permutasi, dapat diketahui banyak pola urutan pemain dalam permainan engklek sebagai berikut.

Baca Juga:  Masjid Cut Meutia Jakarta

 

Misal A, B, C, D, sedang bermain engklek, kemudian mereka melakukan hom pim pa untuk menentukan pola urutan bermain. Dengan menggunakan rumus permutasi, banyaknya pola urutan bermain dapat diketahui, yaitu :

Jadi terdapat 24 pola urutan bermain dari keempat pemain tersebut.

  1. Konsep Himpunan pada Motif Kain Tenun Songket Melayu Langkat.

Motif-motif umum tenun, motif tenun yang selalu dipakai dalam kain tenun songket Melayu Langkat dapat dihubungkan dengan konsep himpunan. Himpunan bagian merupakan jenis himpunan yang dapat diidentifikasi pada konsep ini. Lalu, didaftarkan seperti ; A (Motif tenun umum) = {Tepak sirih, keris Melayu, mahkota sultan, putri dua segirik, sampan berlayar, pulut manis, bunga sekaki, bunga seroja, bunga matahari, bunga mawar, bunga melati, rumput teki, lebah begantung gunung, lebah begantung laut, itik menyelam, itik pulang petang, itik berbaris, pucuk rebung, tampuk manggis}. Maka, A(n) = 19.

  1. Tarian Caci

Tarian Caci merupakan sebuah tarian kesatriaan dan warisan budaya daerah masyarakat Manggarai. Secara etimologis Caci berasal dari dua suku kata yakni ca dan ci. Ca berarti satu dan ci berarti lawan. Jadi, tarian Caci berarti tarian seorang melawan seorang yang lain yang memiliki prinsip sportif dan kreatif dalam aksi. Dalam aksinya, terdapat dua kelompok laki-laki yang akan bertarung. Dalam pertarungan ini, dua kelompok laki-laki tersebut dipasangkan satu lawan satu. Dalam matematika, terlihat bahwa konsep memasangkan laki-laki dalam dua kelompok tersebut menggunakan konsep himpunan, dimana dua kelompok pemain tersebut merupakan dua himpunan pemain dan lawan pemain misalkan A={a1, a2, a3,…} dan B={b1, b2, b3,…}. Relasi saat pementasan tarian caci antara dua anggota himpunan itu dapat digambarkan dengan 𝑅: 𝐴 → 𝐵 dimana pemetaannya mengikuti aturan pemetaan satu-satu.

Dari penjelasan di atas, pembelajaran matematika berbasis budaya akan menjadi alternatif pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan inovatif. Karena memungkinkan terjadinya pemaknaan secara kontekstual berdasarkan pada pengalaman siswa sebagai anggota suatu masyarakat budaya, sehingga diharapkan dapat turut serta dalam mencegah dan mengatasi miskonsepsi yang terjadi pada proses pembelajaran matematika. Etnomatematika juga memfasilitasi siswa untuk mampu mengkonstruksi konsep matematika sebagai bagian dari pemahaman konsep berdasarkan pengetahuan siswa tentang lingkungan sosial budaya mereka. Selain itu, etnomatematika juga menyediakan lingkungan pembelajaran yang menciptakan motivasi baik dan lebih menyenangkan. Sehingga siswa memiliki minat yang besar dalam mengikuti pembelajaran matematika dan diharapkan dapat mempengaruhi kemampuan matematika mereka, khususnya pada kemampuan numerasi.

Baca Juga:  Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah

Adapun pembelajaran etnomatematika yang baik untuk mengatasi miskonsepsi adalah sesuai dengan karakteristik berikut :

  1. Pemilihan konten budaya disesuaikan dengan konten matematika yang sedang dipelajari. Misalnya ketika mempelajari topic kerucut, diberikan produk budaya yang sesuai dengan bentuk kerucut.
  2. Dari produk budaya yang dijadikan bahan etnomatematika, dilihat konsep-konsep matematika yang terdapat di dalamnya, baik untuk dijadikan referensi pengajaran maupun untuk memodelkan konsep budaya secara matematis dari produk budaya tersebut. Misalnya menemukan konsep matematika apa yang ada pada bangunan adat, pakaian adat dan sebagainya.
  3. Siswa diarahkan untuk menghargai budaya mereka, salah satunya dengan menemukan sifat matematika yang ada pada budaya mereka tersebut. Dengan mempelajari matematika menggunakan budaya yang ada di kehidupan sehari-hari, peserta didik akan terdorong untuk menghargai budaya mereka, sebaliknya pembelajaran matematika akan lebih bermakna.

Dapat disimpulkan bahwasannya miskonsepsi matematika perlu mendapatkan perhatian, karena nantinya akan berdampak terhadap kemampuan numerasi siswa. Salah satu cara untuk mengatasi dan mencegah adanya miskonsepsi adalah dengan menggunakan model pembelajaran matematika berbasis budaya atau yang disebut dengan etnomatematika. Etnomatematika ini akan menjadi alternatif pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan inovatif, karena memungkinkan terjadinya pemaknaan secara kontekstual berdasarkan pada pengalaman siswa sebagai anggota suatu masyarakat budaya, sehingga diharapkan dapat turut serta dalam mencegah dan mengatasi miskonsepsi yang terjadi pada proses pembelajaran matematika. Karakteristik pembelajaran etnomatematika yang baik untuk mengatasi miskonsepsi, seperti pemilihan konten budaya disesuaikan dengan konten matematika yang sedang dipelajari, dilihat konsep-konsep matematika yang terdapat di dalamnya, baik untuk dijadikan referensi pengajaran maupun untuk memodelkan konsep budaya secara matematis dari produk budaya tersebut, kemudian siswa diarahkan untuk menghargai budaya mereka, salah satunya dengan menemukan sifat matematika yang ada pada budaya mereka tersebut. Dengan mempelajari matematika menggunakan budaya yang ada di kehidupan sehari-hari, peserta didik akan terdorong untuk menghargai budaya mereka, sebaliknya pembelajaran matematika akan lebih bermakna.

Nah, bagaimana sobat menarik bukan?

Semoga ilmu yang sedikit kami bagikan dapat berguna bagi kita semua ya.

Saya pamit undur diri.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...