Take a fresh look at your lifestyle.

Jeumala Amal; Rumah Belajar Segalanya.

Oleh: Mukhlisuddin Ilyas.
Alumnus Dayah Jeumala Amal, 1997-2000.

Dari kecil, sejak kelas 6 SD sudah menjadi yatim, dengan tiga adik yang kecil-kecil sekali. Tidak ada harapan, yang ada hanya semangat dan mimpi. Bertahan dengan mereka selamanya.

Mak tidak menikah lagi, ia berjuang dengan segala upaya, agar anaknya dapat sekolah terbaik. SMP hidup dengan Chik (Nenek), dari menikmati masakan enak, hingga makan ikan segar setiap hari, karena jarak rumah nenek dengan tambak dan laut lebih kurang 800 meter. Adik-adik tetap dengan Mak. Dirumah yang di tinggal alm ayah.

Menempuh sekolah dengan labi-labi. Jalan berbatasan, antara Pidie Jaya dengan Kabupaten Bireuen. jaraknya sekitar 6 Km. Malamnya mengaji di dayah Babul Ilmi, tidur di dayah. Kalau libur, sering ke sawah Teungku. Kalau musim panen tiba, setiap sore pulang sekolah bantu orang kampung nenek, jahit karung padi. Malamnya tetap menginap di Dayah. Setelah subuh pulang ke Rumah Chik, tidak jauh dari Dayah, melanjutkan sekolah,

Selesai SMP, rencana melanjutkan SMA ke STM Bireun. Mak menyarankan kemana terbaik saja, yang penting belajar ilmu agama. Lalu saya jawab, kalau begitu baiknya sekolah yang ada dayah (tempat belajar agama) dan ilmum umum saja. Itu asal jawab sebenarnya. Lalu Mak mengatakan, kalau begitu ke dayah Jeumala Amal. Baru kemudian tahum, Jeumala Amal adalah dayah kombinasi antara ilmu umum dan ilmu agama.

Tidak terpikir di dunia ini. Ada sekolah kombinasi seperti itu. Maklum tinggal di kampung, akses bacaan tidak ada dan tidak mampu juga. Berbahasa Indonesia saja terbatas kosa kata.

Akhir cerita, mulai tes masuk MAS Jeumala Amal. Lueng Poetoe. Mak mengantar, langsung ke rumah Ustaz Anwar Yusuf. Rupanya Ustaz Anwar saudara Mak, Sama-sama berasal dari Samalanga.

Baca Juga:  Mawardi Ismail: Dosen Ahli Segalanya

Dirumah Ustaz Anwar, yang kemudian setelah tamat. Saya memanggilnya dengan sebutan Cek. Teutahe-tahee, bengong. Karena melihat rak ruang tamunya dipenuhi buku. Disitulah cinta pertama saya dengan buku-buku tentang Aceh. Malam itu juga, saya baca pertama sekali buku Demokrasi Untuk Indonesia.

Sorenya, Mak berencana pulang. Saya menangis. Mak tidak jadi pulang. Jadilah Mak ikut bermalam di Lung Putu. Tidak lama, langsung pengumuman, dan lulus menjadi santri.

Menjadi santri bulan pertama masih bebas berbahasa Aceh. Bulan kedua, wajib berbahasa Indonesia. Semua santri, musibah mulai datang. Kosa kata bahasa Indonesia terbatas. Strateginya harus hemat saja berinteraksi dengan kawan asrama. Tapi, mata-mata dimana mana.

Bulan ketiga masih boleh berbahasa Indonesia. Belum bahasa Arab dan Inggris. Musibah datang, di depan kelas. Ustaz Hamzah, Ustaz lulusan Gontor, wali asrama, melihat sendiri, saya berbahasa Aceh di teras kelas.

Akibatnya, begitu pulang sekolah, masuk asrama. Tendangan kungfu, mendarat di badan. Beberapa kali, hingga terdampar mendekati meja belajar beliau.

Belum cukup disitu, beberapa minggu kemudian. Giliran abang leting (OSMID semacam OSIS) mendaratkan rotan yang membekas, nyaris luka.

Derita itu makin menggila. Tapi karena pilihan, tidak pernah derita itu diketahui Mak. Sekarang baru tahu, makna tendangan kungfu dan mendaratnya rotan ke tubuh.

Mereka semua menjadi guru idola hingga kini. Sebuah kebanggaan, dan benar-benar bangga, mendapat “pukulan” dari mereka. Waktu itu memang, menangis. Antara mau beritahu Mak untuk keluar atau bertahan. Pilihannya tetap bertahan.

Hebat, sesama santri saling menjaga rahasia, makan satu piring bertiga hingga berlima. Berangkat dari perbedaan daerah. Perbedaan kebiasaan. Lalu bersatu dalam asrama. Banyak sekali pengetahuan, yang hari ini baru disadari. Itulah nikmat beragam perbedaaan dalam satu asrama.

Baca Juga:  Refleksi Haul Abon Aziz: Sosok Istiqamah Beut Seumeubeut (1)

Begitu juga setelah selesai di Jeumala Amal. Persaudaraan sesama alumni, saling belajar dan saling berbagi. Menjadi modal pembelajaran tersendiri.

Bagi saya, dayah jeumala amal. Rumah pengetahuan yang progresif. Rumah saya belajar segalanya. Rumah belajar komputer dengan disket, rumah belajar menulis, rumah belajar adab dengan guru, rumah toleransi dan rumah tempat belajar berbagi kebaikan sesama alumni.

Hari ini, diruang ini. Ruang Aula Asrama Haji Provinsi Aceh. Para Ustaz dan alumni (Foskadja) merayakan maulid dan saling silaturrahmi. Datang dari beragam kabupaten/kota.

Sebagai bukti, alumni (1997-2000), ikut hadir dalam beragam profesi. Menyatu dalam canda dan tawa. Mengulang hal-hal dramatis dan lucu. Termasuk soal tendangan kungfu dan rotan itu.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...