Take a fresh look at your lifestyle.

Yang Lebih Penting Dari Politik Adalah Kemanusiaan

0 39

Oleh: Risky Almustana Imanullah.
Mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Pemerintahan, UIN Ar-Raniry, Kopelma Darussalam Banda Aceh.

Gus Dur merupakan Presiden ke-4 Republik Indonesia sekaligus Kyai NU (Nahdhatul Ulama) adalah sosok yang terlihat nyeleneh dengan satire dalam dalam setiap guyonannya. Gus Dur disebut-sebut sebagai bapak pluralisme yang sangat menjunjung tinggi perbedaan, membela kaum tertindas dan minoritas tanpa melihat perbedaan ras, suku dan agama.

Hal gila (bagi masyarakat awam) yang pernah dilakukan Gus Dur adalah mengeluarkan dekrit presiden pada tanggal 23 juli 2001 dengan tujuan ingin membekukan MPR dan DPR, karena bagi Gus Dur dinamika dalam gedung MPR tersebut bagaikan taman kanak-kanak, bahkan menjadi tempat tikus-tikus berdasi yang menjarah uang rakyat.

Dan pada akhirnya Gus Dur dilengserkan melalui sidang istimewa MPR yang dipimpin oleh Amien Rais. Banyak orang yang tidak mampu menginterpretasikan pemikiran dan langkah Gus Dur yang sangat futuristis melampaui pemikiran kebanyakan manusia. Mulai dari kunjungan ke Israel, keliling dunia empat (4) kali setiap bulannya, sosok kyai yang masuk ke geraja, keluar istana memakai celana pendek dan perihal lainnya.

Sisi pemikiran Gus Dur yang tidak banyak diketahui orang adalah pendalaman tauhid sebagai benteng utama dalam kehidupan yang bersumber dari keimanan kepada Allah swt. Satu-satunya Dzat yang Maha Segalanya, Rajadiraja yang mengontrol seluruh alam semesta. Tidak ada sesuatupun yang bergerak kecuali atas kehendak-Nya. Ketauhidan yang menghujamkan kesadaran terdalam bahwa Tuhan (Allah swt) adalah sumber dari segala sumber dan rahmat kehidupan bagi seluruh jagad raya.

Dengan mengenal Tuhan dhahir dan bhatin melahirkan jiwa-jiwa kemanusiaan dalam diri Gus Dur yang bersumber dari ketauhidan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia (walaupun dilahirkan dari setetes mani yang hina). Terlahir kebumi untuk menjadi khalifah guna mengatur segala sisi kehidupan sesama manusia, binatang dan tumbuhan sesuai dengan iradah Allah SWT yang bersifat Qudrah.

Baca Juga:  Politik Sungsang

Kemuliaan merupakan mahkota bagi setiap manusia yang dianugerahi oleh Tuhan, oleh karena itu mengharuskan setiap manusia untuk saling menghormati dan menghargai. Karena menghormati sesama manusia sama halnya dengan menghormati penciptanya, begitu juga sebaliknya. Inilah yang menjadi pijakan Gus Dur untuk membela manusia tanpa melihat perbedaan apapun. Bahkan saat Gus Dur di lengsekan, 300 ribu pasukan berani mati sudah siap untuk melawan penglengseran Gus Dur. Tapi alhasil Gus Dur menahan pasukan tersebut karena beliau tidak ingin adanya kerusuhan dan pertumpahan darah sesama bangsa. Inilah sikap Gus Dur yang jarang di ketahui orang. Dalam kesempatan yang berbeda Gus Dur pernah mengatakan “yang lebih penting dari pada politik adalah kemanusiaan”, dan juga kalimat “tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian”.

Dewasa ini, sangat nadir manusia yang dualitas seperti Gus Dus. Disamping menjadi sosok Kyai, juga merupakan tokoh politik intelektual yang mempersatukan bangsa. Membantu kaum yang lemah, membela kaum yang tertindas dan melindungi minoritas dalam menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Terlepas dari fitnah, provokasi massa dan ujaran kebencian yang dilontarkan kepada Gus Dur oleh barisan yang menganggap kebijakan, kemanusiaan dan keadilan Gus Dur dapat membahayakan eksistensi mereka.

Di era sekarang ini, banyak orang membicarakan sosok Gus Dur yang hampir semua ucapannya pada masa lampau, kentara hari ini. Mulai dari Jokowi menjadi Presiden, Ahok menjabat sebagai gubernur dan pengungkapan cikal bakal penglengseran Gus Dur yang pada saat itu dalam siaran langsung Metro tv di acara Kick Andi, Gus Dur mengatakan “besok-besok akan terbukti oleh bangsa ini sendiri kok”. Sepenggal cerita sejarah penglengseran Gus Dur termaktub dalam sebuah buku yang ditulis Virdika Rizky Utama dengan judul “Menjerat Gus Dur”.

Baca Juga:  Hajat

Realitas saat ini dalam perpolitikan Indonesia, sulit menemukan politikus yang mengadopsi pemikiran Gusdur. Banyak dari mereka yang terlahir kedunia kemudian lupa kepada penciptanya dan kemudian berefek pudarnya ketauhidan dan melemahnya keimanan. Berjalan dengan penuh keangkuhan dan sombong dimuka bumi. Sibuk mengumpulkan harta, luput dari yang memberi harta. Sibuk berkompetisi mendapatkan jabatan dengan hasrat mendapat pujian, hingga luput dari yang mentakdirkan semua itu. Secuil tahta diberikan Tuhan membuat sosok diri menjadi arogan sehingga memandang manusia lain dengan kacamata kehinaan. Minimnya pemahaman tentang ketauhidan, apatis dalam menekuni ilmu agama, hingga melahirkan kepincangan dalam kehidupan yang dijalani.

Kekacauan yang terjadi dari hari-ke hari akibat kehausan dan rakusnya manusia. Dalam kitab Al Amstal wal Hikam halaman 173 disebutkan “orang yang mengejar dunia itu laksana orang yang meminum air laut, semakin banyak diminum, malah semakin bertambah haus“. Orang yang dimaksud tersebut adalah orang yang menyimpan dunia di hatinya, bukan di genggamannya. Sehingga tidak menyisakan ruang kosong untuk mentauhidkan Tuhan di dalam hatinya.

Tidak terbantahkan menjelang pilkada serentak di tahun 2020, 2022 dan pemilu 2024 nantinya. Partai politik baru terus bermunculan, isu agama merupakan persoalan yang kerap dijadikan sebagai jajanan dan cemilan oleh partai politik di Indonesia. Banyak orang menjadikan agama dan Tuhan sebagai perantara untuk mencapai kepentingan, bukan menjadikan agama tersebut sebagai kendaraan untuk mendekat dengan Tuhan yang kemudian memantik jiwa-jiwa kemanusiaan dan melahirkan keadilan sehingga mampu mensejahterakan seluruh masyarakat sebagai tujuan utama politik negara. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sina “sungguh malang mereka yang belum mencicipi cinta Ilahi, orang-orang itu tersesat dari jalan, mereka menjadikan Tuhan sebagai perantara untuk sampai kepada yang lain“.

Baca Juga:  Menghargai Ibu (bukan) di Hari Ibu

Sebagian besar orang mempertanyakan terkait keberanian orang-orang yang memperjual belikan agama. Secara rasional, manusia nekat melakukan apa saja ketika dihadapkan dengan persoalan isi perut dan pemuasan hawa nafsu. Terlebih lagi ketika hatinya mulai kotor. Jangankan memperjual belikan agama, untuk membunuh manusia lain pun tidak segan-segan ketika dapat menghambat keinginannya. Seperti tersebutkan dalam hadis Rasulullah saw “Ketahuilah, sungguh didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati”[HR. Bukhari dan Muslim].

Setiap yang kotor dapat dibersihkan, yang najis dapat disucikan (kecuali anjing dan babi dan yang diperanakkan daripada keduanya), yang keras bisa dilunakkan yaitu dengan cara bertafakkur, mengenal kembali siapa diri ini, untuk apa ada disini dan sampai kapan bertahan disini, bagaimana ketika semua ini sudah berakhir?. Jika tetesan air saja mampu mengikis batu yang keras, bagaimana mungkin hati yang awalnya lembut, kemudian keras, tetapi tidak bisa dilunakkan lagi?. Silahkan dijawab dalam hati masing-masing.

Penulis sangat berharap semoga kita semua mampu menjadi agen of change dan sosok pemikiran Gus Dur lahir kembali dalam jiwa-jiwa setiap pemimpin, khususnya di Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan fasilitasi Pendidikan yang merata, memperkecil volume jeritan si-miskin yang kelaparan, meredamkan gema keributan antar suku dan agama, dan menghangatkan tubuh mereka yang menggigil kedinginan karena tidur dibawah kolong jembatan.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...