Take a fresh look at your lifestyle.

Visi Global BRI China Mengancam Dominasi USA

0 552

Oleh: Novendra Deje.
Analis Geopolitik di Komunitas Studi Agama dan Filsafat (KSAF).

Presiden China, Xi Jinping, dalam pidatonya pada sesi pertama di Forum (virtual) Ekonomi Dunia (WEF) pada tanggal 25 Januari 2021 mengatakan bahwa China bergerak maju dalam perubahan besar dunia, dengan kebijakan multilateral yang diperbaharui ke arah dunia multi-kutub, dimana setiap negara akan diperlakukan setara. Dalam pertimbangan kesamaan nasib, China menjanjikan bantuan bagi mereka yang paling terpukul akibat krisis pandemi melanda dunia saat ini. Hal tersebut menegaskan China akan terus menjamin pertumbuhan ekonomi di tingkat makro. Itulah visi global dari proyek China yang disebut “Belt and Road Initiative (BRI),”.

Sementara Amerika Serikat sepeninggal Donald Trump terperangkap oleh landasan kebijakan “American First.” Joe Biden harus menerima dampak dari makin sempitnya ruang manuver Amerika dalam upaya mengembalikan pengaruh dominasinya demi berbagai negara dan kawasan bisa tetap terserap dalam platform ekonomi globalnya. Sedang China terus bergerak mengukuhkan posisinya sebagai raksasa baru ekonomi dunia. Visi dan kebijakan strategis China efektif menyerap berbagi negara, utamanya kawasan Eurasia, untuk masuk dalam platform ekonominya. Akibatnya, Amerika kini terus kehilangan pengaruh atas kendali tatanan global.

Bagaimana pun, persaingan keras yang terjadi diantara dua raksasa ekonomi dunia itu memberi dampak-dampak paling menentukan bagi jalannya sejarah tatanan ekonomi dan politik dunia di masa depan. Amerika jelas tengah menemukan posisinya berada dalam ancaman terbesar dengan fenomena kebangkitan China dan perluasan jangkar ekonominya. Tingkat ancaman tertingginya adalah ketika China tampak mencapai langkah percepatan luar biasa dari menjalankan rancangan pasarnya dalam proyek Belt and Road Initiative.

Belt and Road Initiatives, atau yang disingkat dengan “BRI,” adalah mega proyek infrastruktur China, dalam upaya mereka menghidupkan kembali jalur sutra lama di bidang perdagangan, yang menghubungkan China dengan berbagai wilayah di kawasan Eurasia. Proyek yang mendapat penentangan keras dari Amerika ini diluncurkan secara resmi oleh Presiden Xi pada tahun 2013. Amerika memandang BRI akan menjadi “kuda troya” yang makin mengancam dominasinya sebagai pengendali utama sistem tatanan global pasca berakhirnya era Perang Dingin.

Bagaimana pun, BRI diperkirakan akan meluaskan serta semakin menguatkan jangkauan pengaruh ekonomi dan politik China secara signifikan dari waktu ke waktu. Sebab, dari itu, China dapat leluasa memainkan peran dalam menentukan arah masa depan tatanan global, dengan pola tertentu yang inginkan. Dimana, akan hadirnya suatu tatanan budaya ekonomi dan politik tingkat global, yang diperkirakan sama sekali akan berbeda dengan platform yang berlaku hari ini. Intinya, akan ada dampak sangat progresif dari proyek BRI dalam menggeser polaritas tatanan status quo.

Dapat dipahami bagaimana kerasnya reaksi Amerika dalam menyikapi BRI, sehingga Washington terus upayakan berbagai langkah yang dapat menjerat langkah Beijing yang melaju semakin cepat. Setidaknya kita bisa menyaksikan itu dari deklarasi tegas Amerika, bahwa mereka tengah menjalankan perang dagang dengan China. Fenomena akhir-akhir ini, Amerikan bahkan tampak mengarahkan type konfrontasinya dengan China dalam bentuk Perang Dingin baru. Kini Amerika tengah menjalankan suatu stategi menghadang laju BRI dengan memantapkan posisi kontrolnya di Laut China Selatan, mengikuti rekomendasi laporan Center for a New American Security (10/11/2016).

Baca Juga:  Invasi Militer Amerika Game Over, China Bergerak Maju di Afghanistan

Akar Sejarah Jalur Sutra Lama.
Untuk diketahui, BRI bukanlah hal yang sama sekali baru dan terlepas dari akar sejarah peradaban ekonomi dan politik China. Proyek yang kadang disebut “Jalur Sutra Baru” itu, hari ini akan memiliki jangkauan lebih luas, mulai dari kawasan Asia Selatan hingga ke Eropa. Lebih luas dari Jalur Sutra lama yang menghubungkan berbagai negara (mengikuti pemilahan letak geografi saat ini) di kawasan Asia Tengah seperti Afghanistan, Turkmenkstan, Kazakhtan, Kyrgyzstan, Tajikistan dan Uzbekistan, serta India dan Pakistan di selatan. Hal ini sebagaimana catatan sejarah China masa lalu, dimasa Dinasti Han (206 SM – 220 M).

Mengacu pada peta jalur sutra awal, Asia Tengah merupakan episentrum dari salah satu tatanan globalisasi gelombang pertama. Jaringan yang terbentuk disana menumbuhkan nilai kekayaan ekonomi sangat besar, menghubungkan pasar timur dan barat. Kekayaan itu mulai dari rempah-rempah, sutra, batu giok hingga barang-barang China yang berharga lainnya direlokasi menuju ke arah barat. Sementara China sendiri menerima masuknya emas dan logam mulia, gading, produk kaca dan lainnya.

Dampak dari Perang Salib beserta dimulainya kemajuan yang diraih bangsa Mongol di kawasan itu, gemerincing kehidupan ekonomi perdagangan di sana pun mendapatkan penghalang yang berat, mengarah pada jalan yang semakin redup. Dari catatan sejarah yang ada, penggunaan rute Asia Tengah mencapai puncaknya selama milenium pertama di bawah kepemimpinan Kekaisaran Romawi dan Bizantium pertama, serta Dinasti Tang (618–907 M) di Tiongkok. Negara-negara Asia Tengah pun kemudian terisolasi satu sama lain secara ekonomi.

Keterpurukan situasi itulah yang kemudian menjadi peluang China untuk “merayu” negara-negara di kawasan tersebut untuk saling bekerja sama membangkitkan kembali era keemasan yang dulu pernah tegak di jalur sutra lama. Itulah tawaran jalur sutra baru, yang secara formal” diberi nama “Belt and Road Initiatives.” Dimana, saat lawatan resminya ke Indonesia, tepatnya saat menghadiri undangan KTT Asean tahun 2013, Presiden Xi pun mengambil kesempatan itu untuk mengumumkan rancangan mega proyek China, terdiri dari Jalur Sutra ekonomi dan Jalur Sutra Maritim.

BRI dan Platform Baru Tatanan Ekopol Global.
Berbagai macam proyek infrastruktur jaringan terus dikerjakan dalam skema BRI. Mulai dari jalan raya, rel kereta api, hingga jaringan pipa energi yang melintasi pegunungan bekas Soviet ke arah barat, dan ke arah selatan yang menuju Pakistan, India dan ke berbagai wilayah di Asia Tenggara. China juga akan berinvestasi dalam pengembangan pelabuhan, mulai dari kawasan Asia Tenggara, Afrika Timur hingga ke sebagian Eropa.

Baca Juga:  Tantangan Dunia Ketiga

Selain dari proyek infrastruktur ini, China pun akan membangun lebih dari 50 Zona Ekonomi Khusus, dimana mata uang Renminbi-nya akan mendapat ruang pasar internasional yang lebih luas digunakan. Konsekuensi dari itu, tentunya semakin mengeliminasi peran Dollar Amerika dalam transaksi internasional di kawasan itu. Menjadi sangat dipahami, mengapa Amerika begitu gerah dengan langkah-langkah progresif China dalam menancapkan pengaruh platform ekonominya.

Untuk diketahui, hingga hari ini, lebih dari enam puluh negara telah menyatakan ikut bergabung dalam skema BRI, dan telah menandatangani kesepakatan yang diperlukan untuk berbagai skema kerjasamanya. Itu berarti telah menempatkan cakupan dua pertiga populasi dunia berada dalam jangkauan pasar ekonominya. Hal tersebut bukan suatu yang sia-sia ketika sampai saat ini China telah menghabiskan biaya hingga 200 milyar dolar dalam proyek tersebut. Dimana, diperkirakan biaya keseluruhan yang diperlukan dalam proyek itu, hingga pada tahun 2027, mencapai jumlah sekitar 1,3 triliun Dolar Amerika.

Ada banyak aspek realistis yang harus dipertimbangkan oleh berbagai negara, utamanya yang berada di kawasan Eurasia. Bahwa menempatkan garis kebijakan ekonomi mereka terus bertahan dalam ketundukan dikte Amerika tidak lagi relevan. Meskipun jarak relasi diantara berbagai belahan dunia makin terpangkas di era teknologi digital (IT), namun secara ril tidak dapat di kesampingkan, bahwa kedekatan geografis masih sangat menentukan efektifitas kesatuan platform.

Mari kita ambil saja contoh Australia yang ikut terseret dampak negatif dari perang dagang Amerika VS China. Selayaknya Australia mengambil manfaat besar sebagai bagian dari negara yang hari ini secara faktual berada di garis perlintasan ekonomi China, di bawah skema BRI. Namun, karena Australia begitu tunduk pada kebijakan global Amerika, tanpa syarat. Akhirnya negara itu harus menerima dampak kehilangan 65 persen investasi ekonkonomi dari China, melampaui rata-rata penurunan investasi global selama dunia dilanda pandemi Covid-19.

Amerika sendiri masih menolak untuk beradaptasi dengan kecendruangan arah baru tatanan global yang makin mendekati titik keseimbangan multi polar. Bahkan, negara itu kini membuka front ketegangan tingkat tinggi dengan berbagai negara yang tengah mengalami pertumbuhan kekuatan untuk menjadi bagian kutub yang ikut menentukan polaritas relasi internasional di masa depan. Tidak hanya dengan China, Pemerintahan Biden makin agresif menciptakan ketegangan dengan Rusia dan juga Iran.

Terhadap China sendiri. Presiden Biden bahkan secara terang-terangang menyatakan janjinya untuk menghalangi laju pertumbuhan kekuatan ekonomi dan politik negeri Tirai Bambu. Menggunakan narasi atas nama demokrasi, Biden berupaya membangun opini yang menempatkan China sebagai ancaman, dan sekaligus untuk meyakinkan bahwa Amerika tetap harus memimpin dunia demi menyelamatkan demokrasi.

Amerika tampak sedang mengalami semacam gejala post power syndrom saat mendapati situasi terus menuju ke arah yang menggerus kekuatan kontrol dan dominasinya atas tatanan global. Seakan tidak percaya dengan fenomena yang terjadi hari ini, Amerika seperti sedang menguji kekuatan kontrolnya dengan menggulirkan berbagai sanksi terhadap negara-negara yang kini telah dapat disebut sebagai varian kutub-kutub baru kekuatan yang memberi pengaruh signifikan terhadap dinamika relasi internasional. Bukan hanya terhadap China, tapi juga terhadap Iran dan Rusia.

Baca Juga:  Gergaji Informasi; Sebuah Introspeksi

Negara seperti Iran telah hidup dan bertumbuh kekuatannya secara mandiri, justru ketika terus berada dalam tekanan sanksi Amerika dari berbagai sisi. Negara Republik Islam pasca revolusi tahun 1979 itu menolak tunduk dan tetap resisten terhadap tatanan dunia di bawah kontrol kekuatan tunggal Amerika. Namun China dan Rusia pun kini menghadapi berbagai sanksi dari Amerika dengan beemacam dalih. Dan kebijakan penegakan sanksi-sanksi sepihak itu, Amerika seperti sedang menguji, lebih tepat kita menyebutnya sedang berjudi, kekuatan wibawa dominasinya dalam mengontrol pola relasi internasional.

Lalu apa yang terjadi, justru sanksi itu seperti memanggil China, Rusia dan Iran untuk membina hubungan lebih erat dalam banyak sisi. Sebagian dari motif penting berbagai sisi kerja sama yang terbangun diantara negara-negara itu tentu untuk melawan sanksi-sanksi sewenang-wenang yang dijatuhkan oleh Amerika. Sepertinya, salah satu strategi paling penting untuk menyiasati dampak dari sanksi-sanksi itu dari aspek finansial, adalah dengan menghindari penggunaan Dollar Amerika dalam setiap transaksi ekonomi diantara mereka.

Kini pun, gagasan rute baru transportasi yang menghubungkan Asia dengan daratan Eropa mulai gencar diwacanakan. Hal itu sebagai alternatif mengatasi masalah yang merujuk pada fenomena terbaru, ketika terblokirnya jalur Terusan Suez. Akibat sebuah kapal kargo raksasa Ever Given terperosok dalam posisi melintang di kanal yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Medeterania itu, gagasan jalur alternatif membuka jalur Siberia tampaknya sedang di dorong dari Rusia.

Pihak Rusia sendiri memiliki alasan yang kuat untuk mengejar terbangunnya jalur alternatif itu. Bagaimana pun, tujuan paling jelas adalah demi mengubah Rusia menjadi salah satu pusat utama yang berfungsi penuh sebagai penghubung antara Asia dan Eropa. Dan itu akan juga, secara tak terhindarkan, terhubung dengan serta melengkapi konektifitas proyek Jalur Sutra Baru China. Maka dari itu pun, kita dapat membacanya sebagai faktor-faktor yang terus menguat, bahwa polaritas tatanan internasional Tengah dan terus bergerak ke arah baru keseimbangan, dengan karakter yang Multipolar.

Sederhananya, kita menjadi paham dengan kepercayaan diri China melalui pernyataan sinyal diplomatnya ke barisan diplomat Amerika saat pertemuan di Alaska baru-baru ini. Diplomat itu mengatakan China memiliki banyak teman, yang artinya negara itu terus mendapat dukungan dari banyak negara melalui proyek BRI-nya yang memang realistis menjawab kebutuhan medel konektifitas dan platform relasi tatanan global.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...