Take a fresh look at your lifestyle.

Tradisi Meugang Semakin Kabur

0 458

Oleh: Risnawati binti Ridwan.
Penulis adalah Alumnus STKS Bandung dan ASN Pemko Banda Aceh.

Ramadan tinggal menghitung hari, artinya beberapa hari lagi akan ada kesibukan yang berkaitan dengan kegiatan meugang atau makmeugang. Tradisi merayakan hari meugang bagi masyarakat Aceh merupakan tradisi yang telah dijalani sejak ratusan tahun. Menurut riwayat, tradisi meugang lebih menguat  pada masa pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607 – 1963).

Tradisi meugang  saat ini masih dilaksanakan oleh rakyat Aceh,  baik itu di tanah rencong atau penduduk Aceh yang bertempat tinggal di luar Aceh. Bagi sebagian besar masyarakat Aceh, meugang merupakan tradisi pengikat pada jiwa leluhur. Sehingga mempunyai kenangan dan rasa yang sulit dihilangkan.

Namun demikian, seiring berjalannya waktu dan perkembangan sosial budaya masyarakat, terjadi perubahan  tradisi meugang sedikit demi sedikit. Perubahan ini tanpa disadari sehingga bagi sebagian orang yang tidak melakukan tradisi meugang bukan karena ketidakcintaannya terhadap tradisi daerah namun bisa jadi disebabkan banyaknya faktor sehingga tidak dapat  melaksanakan tradisi meugang  ini.

Menjelang Ramadan Tahun 2020 lalu merupakan salah satu peristiwa yang mempengaruhi tradisi meugang dan sangat “mengganggu” perasaan orang Aceh. Dimana kondisi pandemi sedang parah-parahnya dengan banyaknya korban Covid-19, sehingga  melarang untuk beraktifitas yang menyebabkan kerumunan. Tradisi meugang dimana dilaksanakan 2 hari menjelang puasa ramadhan mengharuskan masyarakat “berkerumun” di pasar untuk berbelanja kebutuhan meugang.

Namun demikian pemerintah juga tidak melarang tradisi meugang secara eksplisit, tetapi himbauan dan larangan berkerumun menyebabkan masyarakat juga kuatir untuk berbelanja ke pasar. Sehingga suasana meugang  yang biasanya dirasakan oleh masyarakat agak sedikit “kabur” karena berkurangnya keramaian saat-saat belanja di pasar tersebut.

Baca Juga:  Glah Transisi Pak Sakari dan Murid Imigran

Selain peristiwa-peristiwa seperti tahun 2020 yang lalu, tradisi meugang juga telah mengabur tanpa disengaja.  Misalkan, seseorang tidak melaksanakan tradisi meugang  di keluarganya karena adanya kesibukan lain yang tidak dapat di tinggalkan. Tradisi meugang  sangat ditentukan oleh ayah sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai pengurus keluarga. Kesibukan orang tua yang sama-sama pekerja di luar rumah menjadikan acara masak memasak di hari meugang  menjadi terganggu.

Artinya kegiatan meugang tidak dapat dilakukan oleh keduanya karena aktifitas bekerja tidak dapat ditinggalkan. Bagi anak-anak zaman milineal sekarang, tradisi meugang tidak menjadi kewajiban bagi mereka. Karena suasana meugang itu sendiri belum mereka rasakan secara mendalam.

Tradisi meugang dilaksanakan pada hari menjelang ramadhan baik itu sehari atau dua hari sebelum ramadhan. Bagi masyarakat pemerintahan ada yang disebut dengan meugang kantor. Artinya ada tradisi dimana pihak kantor juga menyediakan sumbangan daging bagi pegawainya sebagai bentuk dukungan merayakan tradisi meugang. Tetapi pemerintah daerah juga tunduk kepada pemerintah pusat dimana tidak adanya libur khusus bagi pegawai yang bekerja di perkantoran dalam wilayah Provinsi Aceh.

Tidak adanya libur khusus meugang ini menjadikan ibu-ibu pekerja sulit untuk mengadakan kegiatan meugang  di rumah. Butuh waktu sehari untuk berbelanja, mengolah dan memasak menu olahan daging. Dengan tanggung jawab bekerja maka sangat sulit untuk ibu-ibu pekerja meminta ijin pada atasannya di tempat bekerja.

Jika ibu tidak dapat melakukan aktivitas tradisi meugang, teuntunya tradisi ini akan semakin mengabur dalam ingatan dan kenangan anak-anak sekarang. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tradisi  meugang  ini sedikit banyak terpengaruh dari aktivitas selama ini yang dilakukan oleh masyarakat modern.

Hal lain yang menjadi kaburnya rasa meugang adalah kemampuan masyarakat dalam memakan makanan daging-dagingnya. Tradisi meugang merupakan adat membeli, mengolah, hingga menyantap daging bersama keluarga. Jika beberapa dekade silam, memakan menu olahan daging dilaksanakan pada hari-hari perayaan saja seperti meugang, maulid Nabi Muhammad SAW dan khanduri-khanduri  lainnya.

Baca Juga:  Refleksi Haul Abon Aziz: Sosok Istiqamah Beut Seumeubeut (1)

Tetapi sekarang, masyarakat telah mampu untuk membeli daging untuk di olah menjadi menu keluarga. Jika pun tidak mampu membeli banyak dan memasak di rumah untuk keluarga, menu daging dapat dibeli hanya sepotong untuk sekali makan. Kemampuan membeli daging ini menyebabkan bahwa anak-anak dan keluarga telah terbiasa makan menu olahan daging, bukan menu olahan “mewah” yang jarang di rasakan. dan jika sesekali tidak merasakan masakan menu olahan daging saat meugang bukan hal yang besar dan bermasalah.

Tradisi meugang juga menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh orang tua yang berada di kampung. Bagi mereka, anak-anak yang pergi merantau akan pulang kampung saat meugang. Pulang kampung bukan hanya dilakukan pada Hari raya Idul Fitri saja, namun juga dilakukan pada hari meugang sebelum ramadhan.

Orang tua akan memasak segala jenis makanan yang dulunya menjadi kesukaan anak-anak mereka. Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua saat anaknya sampai ke rumah dari perantauan. Tradisi meugang bagi orang tua menjadi kabur jika anaknya tidak dapat pulang karena kesibukan pekerjaan atau sekolahnya. Namun demikian tidak mengurangi cinta orang tua bagi anaknya yang tidak pulang saat meugang  tiba.

Sejatinya, tradisi meugang adalah bentuk syukur keluarga dalam masyarakat Aceh, bahwa sebentar lagi datangnya bulan rahmat yaitu ramadhan. Dengan menjalankan tradisi meugang ini juga menunjukkan bahwa rasa kekerabatan dalam berkumpul bersama sebelum ramadhan adalah ajang meminta maaf agar ibadah ramadhan dapat dilaksanakan dengan lancar. Meugang  juga membagi rezeki dari orang mampu kepada mereka yang tidak mampu.

Seperti yang tercantum dalam Qanun Meukuta Alam tentang Meugang pada masa Sultan Iskandar Muda, bahwa sultan akan membagi bantuan kerajaan kepada seluruh fakir miskin, anak yatim, orang sakit, disabilitas dan lanjut usia. Bantuan sultan ini berupa pakaian, daging dan sejumlah uang untuk biaya selama ramadhan. Artinya kita telah diajarkan untuk selalu berbagi dengan sesama dalam kondisi apapun. Sehingga kita berharap agar tradisi meugang ini tidak hilang makna digerus zaman. (RbR) []

Baca Juga:  Buku Agenda Ramadhan dan Pesantren Kilat

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...