Take a fresh look at your lifestyle.

Tet Apam Budaya Perlu Dilestarikan

0 4

Oleh: Muzakkir, M.Ed.

Guru SMAN Ulumul Quran Pidie dan Alumnus Pertukaran Guru Ke Amerika Serikat.

”Gadeh aneuk mupat jerat gadeh adat hana pat tamita” hadis maja ini sangat cocok untuk didiskusikan untuk beberapa hari ini, semenjak kepala dinas pendidikan Pidie mengeluarkan surat edaran nomor 421/674/2021 tertanggal 16 Februari 2021 tentang khanduri apam di lingkungan kerja dinas pendidikan Pidie.

Hampir semua media masa di sibukkan dengan berita ini, bahkan hampir semua warung kopi juga mendiskusikan masalah ini berbagai macam argumen muncul baik yang pro maupun yang kontra dengan intruksi ini. Banyak kalangan yang menilai ini adalah program yang sia – sia tanpa perencanaan, bahkan ada yang menilai dinas pendidikan Pidie tidak memiliki program lain yang lebih bermartabat, serta banyak komen – komen miring lainnya yang menyudutkan dinas pendidikan.

Adat dan pendidikan adalah dua mata sisi uang yang tidak bisa dipisahkan, banyak kalangan yang menilai bahwa adat bukanlah bagian penting dari sebuah pendidikan. Adat dan budaya adalah kearifan lokal yang harus di lestarikan salah satu cara melestarikan budaya adalah dengan menjadikan sekolah dan pendidikan sebagai media promosi. Budaya harus dimasukkan dalam setiap pembelajaran sehingga kehadirannya bukan lah hal yang aneh di kalangan masyarakat kita, harapan kita adalah adat dan budaya kita tidak akan aneh di rumah sendiri. Sekolah sebagai alat pemerintah untuk melestarikan budaya harus dijadikan ujung tombak dalam merawat dan melestarikan budaya daerah.

Hari ini sangat jarang kita temukan anak – anak sekolah yang mengenal jengki, leusong, haluwa,  dan makanan – makanan tradisonal lainnya, yang lebih sedih lagi sangat banyak anak – anak Aceh yang lahir dari orang tua berketurunan Aceh masing tinggal di Aceh namun malu mengajarkan anak – anaknya untuk berbahasa Aceh, seakan – akan bahasa Aceh adalah bahasa bagi mereka yang berekonomi menengah kebawah, rasa malu ini akan muncul disaat kita merantau ke luar negeri dimana setiap rumah orang Aceh masih membudayakan bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar utama di rumah mereka.

Baca Juga:  Menjadi Guru di Finlandia

Banyak wali murid akan protes jika guru menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran padahal mereka semua adalah ureng Aceh. Jika kita melirik kebiasaan di daerah lain sungguh iri hati ini, berbagai macam cara dan upaya akan mereka lakukan untuk merawat adat dan budaya mereka ada dengan cara mewajibkan pakaian adat pada hari – hari tertentu, mewajibkan bahasa daerah pada hari tertentu serta banyak hal lain yang mereka lakukan. Rasa senang muncul di saat bupati Aceh besar mengeluarkan edaran tentang penggunaan bahasa Aceh di bandara sultan Iskandar Muda.

Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari segi kognitif semata namun banyak aspek lain yang perlu diperhatikan sehingga pembelajaran tidak semata – mata untuk lulus diperguruan tinggi, atau menjadi juara olimpiade nasional, namun pendidikan harus mampu menjadikan siswa merasa nyaman dan tenang jika berada di lingkungan sekolah. Tidak ada hal negatif dari surat edaran yang dikeluarkan oleh dinas pendidikan Pidie. Bahkan ini adalah langkah yang maju dalam melestarikan budaya nangroe.

Permasalahan ”tet apam” dapat dipandang dengan beberapa sudut pandang, sehingga penilaiannya tidak pada tataran emosional apalagi sudut pandang rival politik, bahkan yang sangat sedih jika mereka praktisi pendidikan dan paham ilmu pendidikan namun tidak bisa memandang ini sebagai sebuah terobosan yang luar biasa dalam pelestarian budaya lokal. Dari sudut pandang ilmu pendidikan banyak teori yang menyatakan bahwa ”tet apam” bisa dijadikan sebagai media pembelajaran yang sangat berkesan bagi siswa. Teori pendidikan yang sangat banyak di anut oleh pendidik saat ini adalah teori constructivisme yang dikembangkan oleh Vygotsky dimana dalam teori ini ia menyatakan bahwa anak – anak akan menyusun pengetahuannya berdasarkan pengalaman sosial serta interaksi sosial yang mereka alami.

Baca Juga:  Berkenalan dengan Orang Cina

“Tet apam” bisa dijadikan sebagai projek Science, Technology, Engginering, and Mathematics (STEM) dalam pembelajaran dimana semua pelajaran di libatkan mulai  dari bahan pembuatannya, proses pembuatannya, serta cara menyajikan. Banyak hal yang bisa di nilai dari setiap proses yang mereka alami. Semua mata pelajaran telibat dalam pelaksaan tet apam. Guru sebagai nahkoda dalam proses ini harus mampu mengakomodir dan menjadikan proses ini bermakna daro segi sosial dan bermakna bagi keimuan mereka.

Dari sudut pandang ethnologi atau ilmu budaya, maka semua pelajaran harus melibatkan unsur ethno dalam pembelajaran, sehingga anak – anak tidak merasa asing dengan ilmu yang sedang mereka pelajari. Di negara maju ethnologi menjadi topik yang hangat untuk di kaji pada masa ini sehingga muncul cabang – cabang ethnologi dalam masing – masing pelajaran seperti ethnomathametic dimana unsur budaya menjadi media dalam pembelajaran matematika, sehingga setiap pelajaran yang mereka pelajari tidak akan jauh dari kebiasaan keseharian mereka. Siswa akan lebih aktif dan kreatif jika mereka dilibatkan dalam pembelajaran secara langsung.

Proses ”tet apam” akan menarik dan menjadi tradisi yang harus dikembangkan dan dikelola dengan sangat baik dan rapi di setiap jenjang, penglibatan guru dalam proses pelaksanaan tet apam disesuaikan dengan latar belakang masing – masing dan mengarahkan anak – anak untuk dapat menggali setiap informasi yang diperoleh mulai dari bahan hingga penyajiannya. Banyak nilai karakter yang bisa ditaman pada anak, sehingga proses tet apam bukan sebatas mengurangi jam belajar anak, bukam program tanpa perencanaan namun sebuah program yang sangat matang dan bagus dalam memperkenalkan budaya lokal pada si anak serta dapat menumbuhkan  nilai – nilai karakter sebagaimana yang diharapkan dalam kurikulum nasional.

Baca Juga:  Kembali Pada Jalan Politik Bioetik, Alam Terawat Rakyat Terbela

Pendidikan tidak semata – mata tentang pengetahuan namun pendidikan adalah proses perubahan yang harus dilakoni oleh peserta didik dengan bimbingan dan arahan oleh guru sebagai pendamping. Jika kelulusan ke perguruan tinggi menjadi patokan mutu pendidikan maka sungguh disayangkan hanya sebagian kecil dari alumni sekolah menengah kita yang tertarik untuk kuliah dan sebagai besar lainnya lebih memilih untuk bekerja, jika patokan pendidikan nasional adalah juara olimpiade nasional maka kita hanya berharap robot – robot masa depan yang hanya mengenal dunia namun lupa akan budaya dan agama. Namun pendidikan adalah universal dan harus dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga penilaian terhadap program pendidikan akan lebih objektif dan adil.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...