Take a fresh look at your lifestyle.

Serba-serbi KTT G20 Bali

Mewujudkan perdamaian dan menghentikan perang pada dasarnya ialah dengan melakukan perdagangan internasional dan membentuk sebuah forum atau organisasi transnasional yang mengkoordinasi negara-negara di dunia.

Hal ini juga disampaikan Immanuel kant dalam “perpetual peace”.

Secara parsimoni, G20 adalah forum yang berusaha mempertemukan setiap negara-negara di dunia dengan standardisasi tertentu seperti ratio PDB, kepentingan ekonomi, perdamaian, energi dan afinitas lainnya yang membuat negara-negara anggota berkumpul dan mengeluarkan proposal resolusi untuk menghadapi tantangan global.

Sebagai orang berpandangan reverse causality yang mana utilitas ekonomi untuk menciptakan keadaan politik yang lebih baik saya mengutamakan urgensi ekonomi itu diatas apapun termasuk ideologi.

Forum internasional seperti ini harus senantiasa hidup dalam mengartikulasikan kepentingan dan menjawab tantangan global.

Namun, problematika global tidak hanya bertengger pada persoalan pemenuhan substitusi dan komplementer komoditas akan tetapi juga turut merecovery dan memitigasi dari aktivitas ekonomi yang dilakukan.

“Depedensi itu adalah sebuah keniscayaan”

Ada sebuah rangkaian depedensi komoditas yang di lukiskan oleh Matt ridley dalam bukunya yang berjudul “Optimis rasional”. Ia memberi eksplanasi yang cukup baik bagaimana dunia bekerja dan saling bertransaksi di ajang pencaturan politik global. Di ungkapkan secara sederhana bagaimana keseharian pagi seorang Matt ridley duduk di ruang kerja, penghangat ruangan, sepatu, laptop, memakai jam branded dan tas.

Lalu, apa yang anda lihat disini?. Mari kita sedikit berpikir apa yang tidak dipikirkan orang pada umumnya. Laptop yang dipakai oleh Ridley pastinya terdiri dari beberapa bahan baku baik dihasilkan dari domestik maupun bahan importir.

Bisa saja lithium baterai laptop tersebut di impor dari Indonesia, penghangat ruangan yang dipompa oleh gas Rusia, kulit sepatu dari Vietnam dan tas berbahan dasar dari negara-negara Eropa.

Baca Juga:  Chelsea, Frank Lampard, dan Aceh

Secara tidak langsung, Ridley sudah menikmati berbagai komoditas transnasional dalam satu waktu.

Hal sesederhana yang dilakukan oleh Ridley inilah yang membuat negara-negara di dunia berkumpul dan saling melengkapi. Lalu, bagaimana jika kita konteksualkan pada persoalan yang lebih rigid seperti kebutuhan akan energi dan pangan misalnya?

Ya, tentu saja energi dan pangan merupakan hal yang paling urgen dan menjadi significant predictor bagi keberlangsungan aktivitas korporasi, masyarakat menengah maupun bawah.

G20 hadir untuk itu, para pemimpin dunia berusaha hadir secara simultan dalam sebuah forum regional, melihat komoditas yang diperlukan oleh domestiknya, mencari harga terbaik untuk menciptakan stabilitas dan proporsional di negaranya.

Tidak ada negara di dunia ini yang memiliki komoditas secara keseluruhan, jika dahulu kala imperium-imperium besar dan menengah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan melakukan peperangan dan ekspansi maka, di era modern setiap negara melakukan kerjasama secara damai dan memenuhi kesepakatan tertentu. Hal inilah yang memaksa setiap negara melakukan hubungan kerjasama luar negeri untuk komplementer dan mencari harga dan kualitas terbaik.

Dalam buku Mencari Tuhan-Tuhan Peradaban secara eksplisit saya menyebutkan bahwa “Tuhan menggilir kejayaan. Setiap negara-negara di dunia saling membutuhkan, walaupun Barat terkenal dengan kedigdayaan industri namun jika Timur tengah tidak hadir sebagai pemasok minyak maka industri akan macet dan collaps.”

Perdagangan internasional adalah sebuah kenisyaan, bahkan ia mampu menghubungkan negara-negara yang berbeda ideologi sekalipun melewati nadi komoditas. Perdagangan meruntuhkan eskalasi egosentris.

Begitulah yang diutarakan Adam smith.

“Memprioritaskan afinitas ekonomi tapi negasi terhadap kebebasan sipil”

Kita tidak dapat menutup mata bahwa banyak sekali aktivitas dari hubungan internasional terutama persoalan ekonomi apalagi bersifat ekstraktif menimbulkan dampak yang sangat signifikan terutama terhadap perubahan iklim dan pencemaran lingkungan.

Baca Juga:  Residu Pilpres 2019 Dan Aceh 2020

Dalam mengulas perihal lingkungan, saya tidak pernah lupa mengutip salah satu teori dari ekologi ternama dari Santa barbara yaitu Garret hardin “Tragedy of commons.”

Ia memaparkan dengan baik bagaimana manusia terus melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap lingkungan namun hirau terhadap konsekuensi yang ada di depan mata.

Tidak dapat dimungkiri, aktivitas pertambangan dan eksploitasi secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan atau bahkan kerakusan manusia ada hal yang dikorbankan yaitu lingkungan. Dari aktivitas yang secara kontinu dilakukan tentunya akan berdampak secara serius terutama terhadap perubahan iklim.

Banyak sekali gerakan-gerakan rejectionist, NGO internasional hingga domestik baik dilakukan secara bersama-sama ataupun seorang diri menyuarakan bahwa perubahan iklim itu nyata adanya dan menjadi tanggung jawab para pemimpin dunia untuk membahas dan memitigasinya. Perusakan dan vandalisme yang dilakukan oleh beberapa orang dengan melempar lukisan Monalisa misalnya. Hal itu dilakukan tidak lain adalah untuk menarik perhatian masyarakat dunia dan mendemonstrasikan bahwa dunia sedang dalam keadaan bahaya.

Greenpeace adalah NGO yang sangat konsisten dalam hal ini.

Mereka melakukan beberapa aksi damai yang tentunya langsung di anulir oleh pemerintah dengan berbagai alasan.

Lalu, mengapa organisasi dan gerakan seperti ini hadir? Apakah ada yang salah dengan forum regional seperti G20?.

Tentu, tidak adanya proteksi dan pengawasan yang baik oleh pemerintah terhadap iklim dan lingkungan.

Mereka hadir untuk menyuarakan sisa residu yang ditinggalkan oleh aktivitas penambangan yang tidak memperhatikan keberlangsungan makhluk hidup.

Banyak forum dunia yang memiliki antitesisnya. Seperti World economic forum misalnya, rivalnya adalah World social forum yang bermarkas di Porto alegre Brazil.

World social forum hadir untuk menandingi WEF yang terkesan kapitalistik dan hanya di isi oleh industri padat modal yang sarat kepentingan.

Baca Juga:  Konsep Bisnis Cina: Guanxi

WSF hadir untuk menghimpun seluruh masyarakat dunia untuk mendemonstrasikan keberpihakan ekonomi terhadap masyarakat kecil dan tidak timpang yang hanya tendensius pada pemilik modal.

Ambivalensi seperti ini akan terus terjadi jika sebuah tatanan sistem tersebut tidak cukup mapan untuk menyelesaikan ataupun mengawasi apa yang sudah dimulai pada awalnya untuk mencapai tujuan.

Mereka hadir bukan untuk menghancurkan lalu menggantikan dengan kemapanan yang baru, ini adaah tautologi. Tapi berusaha menyuarakan kepada pemangku dan penerima mandat dunia agar memperhatikan urgensi perihal lingkungan.

Maka, perjuangan para kaum rejections dan NGO yang telah mewakafkan kehidupannya dan tetap setia terhadap proses patutlah di kenang sebagai pahlawan yang sebenarnya.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...