Take a fresh look at your lifestyle.

Seni Perang Kosmik Ala Sun Tzu

0 2

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad.
Dosen UIN Ar-Raniry, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Saya bukanlah ahli peperangan atau pakar dalam kajian pertahanan dan keamanan suatu kawasan. Beberapa analisa yang terbit di web ini merupakan wacana baru yang ditekuni, karena pergesekan kajian sosial antropologi dengan kajian keamanan negara. Intinya, karena seorang peneliti sosial antropolog berjibaku dengan kebudayaan, rupanya ujung-ujung studi ini dapat dijadikan sebagai kajian di dalam analisa intelijen. Karena itu, beberapa analisa yang disajikan, tampak kiranya dipandang bahwa ada sebuah bidang keilmuan, khususnya ilmu sosial dan humaniora, tampaknya dapat memperbetulkan atau merusak arah kehidupan suatu masyarakat. Di sinilah perlu dipahami makna perang yang sesungguhnya, sebagaimana dijabarkan dalam edisi sebelumnya tentang Perang Kosmik (Cosmic War).

Dalam esai ini, saya akan melanjutkan mendiskusikan tentang Perang Kosmik. Salah satu pakar dalam ilmu peperangan adalah Sun Tzu. Tidak perlu dijelaskan siapa dan bagaimana sosok Sun Tzu. Siapapun pakar pertahanan dan keamanan, tentu wajib mempelajari karya Sun Tzu dalam seni peperangan. Bahkan ilmu Sun Tzu juga digunakan di dalam strategi bisnis oleh beberapa usahawan. Demikian pula, jika kita ingin mendalami dan memahami konsep dan pertahanan negara Tiongkok, maka salah satu bacaan wajib adalah bagaimana seni berperang dihasilkan dalam karya Zun Tzu. Di sini, saya akan kaitkan beberapa konsep dan strategi Sun Tzu ini dengan konsep Perang Kosmik, yang telah ditawarkan sebelumnya. Saya berkeyakinan bahwa perang, apapun namanya, selalu melibatkan dua kekuatan yaitu makro kasmos dan mikro kosmos.

Sun Tzu menuturkan bahwa seni perang dilakukan melalui lima faktor, yaitu: hukum moral, surga, dunia, panglima, dan metode dan disiplin (Tzu, 2009: 3). Dari kelima faktor tersebut, semua berhubungan dengan sistem kosmologi, kecuali yang terakhir, yang sudah menjadi bentuk sistem pengetahuan. Hukum moral berkenaan dengan sesuatu yang mesti diikuti oleh yang dipimpin dari seorang pemimpin. Konsep ini juga merupakan bagian dari pemahaman filosofis manusia itu sendiri tentang cara mereka memandang sesuatu yang baik dan buruk, yang kemudian diikuti oleh pengikut atau rakyat yang dipimpin. Manusia akan bertarung untuk mempertahankan sistem moral yang menjadi basis hukum untuk dianut oleh manusia lain. Filsafat moral (moral philosophy) akan dicari bentuknya yang kemudian dihubungkan dengan sistem etika sebagai suatu gelombang kesadaran bersama yang kemudian membentuk kompas dan cara bertindak masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Satu Dekade Persahabatan dengan Profesor Bahrein T. Sugihen

Adapun surga, menurut Sun Tzu menunjuki tentang siang dan malam, panas dan dingin, waktu dan musim. Di sini tampak bahwa apa yang ingin disampaikan adalah koneksi manusia sebagai mikro-kosmos dengan alam yang merupakan makro-kosmos. Artinya, perang itu pada gilirannya adalah mempertahankan pendirian tentang siklus kehidupan manusia atau yang dikenal dengan takdir. Spirit ujung perang selalu berada pada titik yang baik atau menuju surgawi. Karena itu, hubungan antara sistem kosmologis sangat terkait dengan ilmu peperangan. Semakin dalam seseorang mampu memahami ilmu tanda-tanda alam, semakin piawai pula dia di dalam menggerakkan energi perang di dalam melawan musuh.

Adapun bumi itu sendiri adalah bagian dari sistem kosmologi. Menurut Sun Tzu, bumi terdari dari jarak antara yang besar dan kecil, bahaya dan keamanan, dataran yang luas dan sempit, kesempatan hidup dan mati.(Tzu, 2009, hal. 3) Manusia di bumi selalu diberikan pilihan. Namun ada juga ketentuan dimana manusia tidak memiliki pilihan, kecuali menjalani semua takdir kehidupan sesuai dengan lorong waktu dan sejarah yang harus dilakoninya. Dalam hal ini, studi tentang ruang dan waktu juga merupakan bagian dari kajian kosmologi. Dalam al-Qur’an juga disebutkan bahwa Allah bersumpah dengan waktu dan manusia di dalam menjalani kehidupannya berada di dalam kerugian. Proses perjalanan manusia dalam lorong waktu tersebut adalah orang yang beriman, beramal saleh, memiliki pendirian yang hakiki, katakwaan yang dijunjung tinggi.

Adapun faktor yang keempat adalah Panglima yang memutuskan apakah perang dijalankan ataupun sebaliknya. Dalam diri seorang panglima mesti adalah nilai-nilai kebijaksanaan, ketulusan, kebajikan, keberanian, dan ketegasan.  Manusia itu merupakan mikro-kosmos (‘alam al-saġīr). Nilai-nilai yang terkandung di dalam jiwanya merupakan pusat dari mikro-kosmos. Dia memiliki strategi untuk memutuskan segala sesuatu yang berdasarkan dari lima nilai tersebut. Panglima Perang disebut dengan istilah general  (jendral). Dia harus pandai dalam menjalankan strategi. Istilah ini berasal dari kata stratēgos, dimana memiliki dua aspek yaitu stratēgike episteme (generals’ knowledge) atau stratēgōn sophia (generals’ wisdom) (Friedman, 2013:72). Ini menunjukkan bahwa seorang panglima benar-harus memahami ilmu strategi yang berisi pengetahuan dan kebijaksanaan. Di satu disisi sosoknya harus pandai atau cerdik, disisi lain dia juga harus mampu menjadi seorang filosof.

Baca Juga:  Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 3)

Terakhir, pesan Sun Tzu adalah metode dan disiplin. Di sini lebih banyak berhubungan dengan dunia kemiliteran, dimana persiapan pasukan/tentara/serdadu sebelum dan sesudah digerakkan. Mereka harus mempersiapkan diri melalui latihan dan hal-hal lain yang harus dipersiapkan. Kondisi ini termasuk di dalamnya taktik-taktik yang akan digunakan di dalam melakukan peperangan. Karena itu, persiapan peperangan sangat membutuhkan kedisiplinan yang amat tinggi. Karena memenangkan peperangan yang lebih efektif selalu dibarengi dengan persiapan yang matang. Lima hal  tersebut merupakan imajinasi perang menurut Sun Tzu. Para sarjana kemudian mengutip pandangan Sun Tziu di dalam pertahanan dan keamanan negara. Teori Sun Tzu dikembangkan oleh para penerusnya. Namun, satu hal yang harus dicatat bahwa pemikiran Sun Tzu sangat dipengaruhi oleh sistem kosmologi dalam agama dan keyakinan yang dianut oleh tokoh ini. []

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...