Take a fresh look at your lifestyle.

Semangat Filantropi dari Mesjid Kuta Baro Kembang Tanjong

0 589

Oleh: Zarkasyi Yusuf.
ASN Pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh. Berkhidmat pada LAZIS-NU Aceh.

Reportase kali ini masih terkait semangat filantropi masyarakat Kembang Tanjong. Fokusnya, kisah santunan yatim piatu, serta upaya revitalisasi semangat kedermawanan dalam konteks sekarang. Syukur, jika mampu menginspirasi untuk membumikan kabaikan melalui semangat tolong menolong. Jika Berangkat dari Kota Sigli dengan menempuh jalur Sigli-Kembang Tanjong, pada kilometer sepuluh akan dijumpai sebuah Mesjid Jamik, posisi Mesjid berada di sebelah kanan. Mesjid ini masuk dalam wilayah gampong glumpang kemukiman Kuta Baro yang merupakan salah satu dari enam kemukiman dalam wilayah kecamatan Kembang Tanjong. Dari mesjid inilah kita akan bercerita tentang semangat filantropi.

Mesjid Quba al-Munawwarah lebih dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Mesjid Kuta Baro. Peletakan batu pertama Mesjid ini pada tahun 1969, diberinama Quba al-Munawwarah terinspirasi oleh mesjid yang pertama sekali dibangun oleh Nabi Muhammad SAW yang terletak di sebelah selatan Kota Madinah yang dibangun pada tahun pertama hijriyah, bertepatan 622 masehi. Mesjid ini Quba al-Munawwarah Kuta Baro menjadi saksi sejarah peringatan 1 Muharram dengan agenda utama santunan yatim.

Santunan yatim setiap tanggal 1 Muharram dimulai tahun 1976 atas gagasan al-Marhum Tgk. H. M. Taher Husen. Mungkin tidak banyak yang tahu tentang Teungku Haji Muhammad Taher Husen, beliau salah seorang tokoh penting dalam perjuangan Aceh Merdeka (AM), posisi beliau saat pertama deklarasi AM adalah sebagai Menteri Penerangan, seperjuangan dengan Zaini Abdullah, Daud Paneuk, Ilyas Leubee dan tokoh AM lainnya kurun 1976. Pada tahun 1978, target utama santunan adalah untuk yatim korban pergolakan Aceh Merdeka (AM). Tgk H. M. Taher Husen juga menjabat sebagai Imum Chiek masjid dan Imum Mukim Kuta Baro kurun waktu 1980 – 1988. Beliau juga dikenal sebagai salah seorang dewan hakim Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi, untuk bidang tajwid dan fasahah.

Tokoh lain dibalik lahirnya santunan yatim 1 Muharram Mesjid Kuta Baro, yaitu Ahmad Rahman, beliau pernah menjabat Imum Mukim Kuta Baro kurun waktu 1980 – 1990, pernah menjadi Kepala Desa teladan dan diundang ke Jakarta bertemu dengan Presiden Soeharto. Terakhir, tokoh yang juga berperan dalam pelaksanaan santunan yatim 1 Muharram di Mesjid Kuta Baro adalah Tgk. Ibrahim Busu, beliau salah seorang Imum chiek Mesjid kurun waktu 1990 – 2003. Beliau salah seorang Imum Chiek yang menguasai secara detail persoalan ilmu mawaris. Ketiga tokoh ini telah berpulang ke rahmatullah, semoga Allah ampuni segala dosa dosanya dan diterima segala amal kebaikannya.

Baca Juga:  Mengurai Benang Kusut Masalah Kebangsaan

Menariknya, santunan yatim di Mesjid Kuta Baro menjadi “magnet” kehidupan masyarakatnya, bahkan mereka merasa ada yang kurang jika kegiatan ini tidak dilaksanakan ketika menyambut tahun baru hijriyah. Belum didapat informasi secara pasti apa alasannya mengapa pelaksanaan santunan yatim menjadi agenda utama setiap tanggal 1 Muharram di Mesjid Kuta Baro. Tahun 2020, usia pelaksanaan santunan yatim Mesjid Kuta Baro telah  memasuki usia 44 tahun. Sisi lain, kegiatan ini menjadi ajang silaturrahmi bagi seluruh warga masyarakat gampong dalam kemukiman Kuta Baro, acara juga diisi dengan ceramah, bahkan donor darah.

Merevitalisasi Semangat Kedermawanan
Para tokoh yang telah menggagas dan berjuang mempertahankan tradisi santunan yatim di Mesjid Kuta Baro perannya bagaikan katalisator, berhasil menghantarkan simpati dan dukungan warga untuk peduli dan berbagi dengan anak yatim. Padahal, waktu itu pendanaanya hanya bersumber dari breuh si-reugam (beras segenggam), padee si-are per kepala keluarga, boh itek masen dan bu kulah saat hari pelaksanaan santunan, serta sumbangan donator lainnya, walaupun anak yatim yang disantuni hanya yatim dalam wilayah Kemukiman Kuta Baro dengan sumbangan seadanya.

Sisi lain, para tokoh ini telah berhasil memainkan perannya sebagai panutan dalam komunitas masyarakat kemukiman Kuta Baro. Sehingga gagasan dan tindakannya masih diikuti, dijaga dan dilestarikan sampai sekarang. Ini sejalan dengan teori peran (role theory) yang menekankan sifat individu sebagai pelaku sosial, sesuai dengan posisi yang ditempatinya di lingkungan kerja dan masyarakat (Gratia-Septiani, 2014).  Sekarang, hal penting adalah bagaimana mengambil pelajaran (lesson learn) dari peran tokoh ini yang mampu mengerakkan massa untuk simpati dan berbagi kelebihan dalam kebaikan dengan menyantuni anak yatim, serta bagaimana meneruskan dan mempertahankan tradisi ini agar tetap langgeng sampai akhir masa.

Baca Juga:  Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 4)

Terkait peduli dan berbagi sebagai bahagian dari filantropi, telah dijelaskan dalam banyak hadist. Diantaranya adalah pesan Rasulullah dalam sabdanya, “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdo’a keduanya, seorang Malaikat berdo’a “Ya Allah, berikan ganti pada orang yang gemar berinfak”, Malaikat yang lain ber’doa “Ya Allah, berikan kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah” (HR. Bukhari, nomor hadist 1442).

Terkait dengan santunan yatim, perlu mendapat perhatian kita bahwa para anak yatim tidak hanya hidup pada bulan Muharram saja, mereka juga harus hidup pada sebelas bulan lainnya, santunan untuk mereka tidak hanya fokus pada sumbangan berupa uang, kain sarung atau beras, tetapi mereka juga butuh pendidikan untuk masa depan. Rasulullah telah mengingatkan bahwa rumah atau kampung yang baik adalah yang memperhatikan anak yatim. Sebaliknya, rumah atau kampung yang paling jelek adalah dimana para yatim disia-siakan. Dalam sabdanya, Rasulullah berpesan “Aku dan orang yang mengurus (menanggung) anak yatim (kedudukannya) di dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan (kedua jarinya yaitu) telunjuk dan jari tengah serta agak merenggangkan keduanya.” (HR. Imam Al-Bukhari).

Dalam buku Dahsyatnya Do’a Anak Yatim; Mengungkap Rahasia Keberkahan Menyantuni Anak Yatim, ditulis oleh Khalilurrahman al-Mahfani (2009), disebutkan setidaknya ada tujuh kelebihan menyantuni anak yatim, (1) Meraih Peluang Menjadi Teman Rasulullah SAW di Surga, (2) Pengasuh Anak Yatim Dijamin Masuk Surga, (3) Memperoleh Pertolongan dari Allah SWT, (4) Mendapat Predikat Abrar (Saleh atau Taat Kepada Allah), (5) Investasi Amal untuk Akhirat, (6) Menghindarkan dari Siksa Akhirat, dan (7) Menggapai Keberuntungan dan Menjadi yang Terbaik.

Bagi yang ingin berpartisipasi, Insya Allah tanggal 1 Muharram akan menjadi agenda rutin dan dijadwalkan periodik di Mesjid Kuta Baro . Kita berharap, semoga berkah dari santunan anak yatim, Allah kirimkan para generasi penerus Kuta Baro yang mampu menjadi tokoh dan pencetus dalam segala aspek kabaikan, serta terus memberikan perhatian untuk anak yatim tidak hanya pada bulan Muharram, tidak hanya diberikan sarung dan beras tetapi juga difasilitasi pendidikan mereka demi menatap masa depan yang lebih baik. Sebab, hakikat yatim sebenarnya adalah mereka yang tidak memiliki adab dan ilmu.[]

Baca Juga:  Dari Wuhan Aku belajar Toleransi

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...