Take a fresh look at your lifestyle.

Sebagai Intelektual, Anda Mau Jadi Apa? Peneliti? Pemikir? Filsuf?

2 24

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad.
Antropolog dan Dosen UIN Ar-Raniry Kopelma Darussalam Banda Aceh.

Dalam satu perjalanan dari Banda Aceh menuju salah satu provinsi di Pulau Jawa, saya transit di Bandara Soekarno Hatta International Airport. Tanpa sengaja dalam bus pengantar salah satu armada pesawat terbang saya berjumpa dengan guru saya.

Saya kaget dan terkesima. Setelah bertanya kabar, tentang keluarga, Sang Guru pun bertanya: apakah anda sudah bisa berbahasa Jerman? Belum Pak. Itulah jawaban saya. Dia mengatakan bahwa saya harus mampu menguasai bahasa Jerman, jika mau mendalami ilmu sosial. Sebab, ilmuwan Jerman banyak yang menjadi filsuf, di mana mereka menghasilkan karya-karya mereka dalam bahasa Jerman.

Sang Guru memang sangat jarang memuji. Dia selalu mencari apa yang kurang dalam perjalanan intelektual muridnya. Saya masih ingat nasihatnya tentang perjalanan seorang intelektual dalam berkarya, dia mengatakan bahwa saya harus memulai karir kepenulisan, dimulai dengan menerjemahkan karya bahasa asing, mengedit buku, meringkaskan pemikiran seorang tokoh, lalu melakukan penelitian lapangan.

Beberapa pesan ini telah saya laksanakan, mulai menerjemahkan buku dari bahasa Inggris, mengedit buku bersama sejawat,  dan menghasilkan penelitian lapangan. Beruntung saya mendapatkan mentor akademik yang membunuh kesombongan dan keangkuhan intelektual saya.

Ketika saya belajar di Australia, saya pun beruntung menjadi murid terakhir, dari seorang antropolog terkemuka. Salah satu istilah yang paling saya ingat adalah jangan pernah melakukan general sweeping, jika menulis sesuatu di dalam menganalisa sesuatu.

Pelajaran ini akhirnya mengantarkan saya untuk tidak pernah luput membaca, sampai kapan pun. Sebab, dengan membaca akan mengerti bahwa menulis itu perlu rujukan yang bermutu, tidak menganggap karya orang lain sebelah mata, tidak takabbur dengan ilmu yang sudah didapatkan.

Rupanya, di dalam rimba ilmu, menghormati dan menghargai adalah kunci untuk mendapatkan sebanyak mungkin asupan gizi ilmu pengetahuan dari para ilmuwan.

Dua cerita di atas memang tidak begitu saya terapkan pada mahasiswa saya di Kopelma Darussalam. Jangankan memaksa membaca, meminta menulis pun sangat susah saya lakukan pada mahasiswa-mahasiswa. Putus asa. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana situasi akademik pada beberapa mahasiswa.

Baca Juga:  496 Hari di DPRK Aceh Besar; Suatu Pertanggungjawaban Publik

Bagi mereka, masuk pada hari pertama adalah untuk mendapatkan nilai A. Setelah itu, berbagai “drama Darussalam” pun terjadi, buat tugas dengan plagiasi, menulis skripsi dengan membayari, masuk kuliah sesuka hati, dan hormat pada guru jauh dari imajinasi.

Adapun yang lebih parah adalah mereka yang sama sekali belum pernah melakukan penelitian yang komprehensif tentang bidang/disiplin ilmu yang mereka geluti, sudah berkacak pinggang, seolah-olah mereka sudah menjadi pemikir atau filsuf di dunia ini.

Ini merupakan “penyakit intelektual” yang sangat parah terjadi, mana kala seseorang sudah sering disanjung, di dalam berbagai forum ilmiah, merasa dirinya sudah berada di  puncak intelektual. Penyakit ini memang saya jumpai di beberapa tempat, dimana sangat susah disembuhkan, sebab mengkritik dewasa ini, akan malah membangun empati dan simpati pada pasien ini.

Karena itu, ketika ada anak-anak muda yang cerdas, baru selesai jenjang studi S1, S2, dan S3, saat mereka bicara orang terpukau dan tidak membantah, saya langsung menimpali bahwa anda sedang dalam masalah intelektual. Apakah anda disanjung karena kualitas intelektual atau orang-orang di sekitar anda sudah tidak peduli dengan apa yang anda katakan. Atau, jangan-jangan anda hanya mengulang-ulang hal-hal yang sama selama bertahun-tahun, tanpa perkembangan berarti dalam asupan gizi intelektual anda.

Akibatnya, anda pun dibiarkan saja, tanpa ada respon yang memadai. Banyak di antara intelektual yang tidak pernah melakukan up-grading terhadap asupan gizi intelektual mereka. Sehingga, dia hanya mengandalkan pengetahuannya, saat mereka menyelesaikan tesis master atau disertasi doktoral.

Hal ini diperparah oleh keabsenan mentor akademik yang dapat “menjewer” secara intelektual. Seseorang “mentor akademik,” saya pernah diminta keluar dari Aceh untuk melakukan proses membaca dan merenung selama beberapa bulan lamanya. Setelah itu, saya langsung keluar dari Aceh untuk melakukan academic recharging pada beberapa kampus di Pulau Jawa, Thailand dan Malaysia.

Di situlah saya menyempatkan membaca dan merenung dari daftar bacaan yang sudah dibuat bertahun-tahun. Dari proses perenungan dan pengendapan ilmiah, kemudian menambah memperkuat fondasi intelektual dan kembali berjibaku dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini.

Baca Juga:  Degradasi Identitas Kaum Muda

Proses ini sangat diperlukan, supaya tidak menganggap diri sudah paham akan semuanya. Penyakit yang muncul biasanya adalah self centered. Apapun yang dilakukan selalu dimulai dari pengalaman pribadinya. Dalam setiap pembicaraan, selalu dimulai dengan keakuan.

Perilaku self centered ini memang tidak akan ada yang mengingatkannya. Namun, ada kalanya orang di sekitar kita yang merasa glak dengan perilaku keakuan seseorang. Karena itu, “mentor akademik” sangat diperlukan di dalam perjalanan akademik seseorang, sampai dia berada pada tahapan puncak.  Mencari “mentor akademik” bukanlah pekerjaan mudah, sebab terkadang mereka tidak mau menggurui atau memperingatkan sesuatu, sebelum ada hubungan secara kebatinan (soul connection).

Dari uraian di atas, tampak bahwa perjalanan intelektual seseorang tidak akan langsung loncat pada gelar filsuf. Ada banyak proses yang dilalui dalam perjalanan intelektual. Jika terlalu cepat menyebut dirinya pemikir atau filsuf, maka satu persatu nasihat kehidupan dalam dunia intelektual, akan menjauh.

Seseorang tersebut akan dibiarkan di dalam kubangan intelektual yang dipenuhi dengan buih sanjungan dan pujian, hingga akhirnya tidak ada orang yang memperingatkannya. Kondisi ini memang pernah saya lihat di salah satu kota di Indonesia. Mereka yang merasakan dirinya sudah menjadi pemikir atau filsuf, kemudian tidak bisa melepaskan keterjebakannya dalam pemahaman kediriannya, di mana para “mentor akademik” sudah menjauh, karena tidak dapat diingatkan, maka sang pemikir atau filsuf tersebut, akan berbicara dalam kondisi yang dia sedang “tersangkut dengan satu pemikiran.”

Konsep “tersangkut dengan satu pemikiran” ini memang susah dikeluarkan, karena para pemikir dan filsuf tidak mau menjadi peneliti terlebih dahulu, terlebih sudah menjadi selebriti intelektual. Beberapa kalangan yang “tersangkut dengan satu pemikiran” ini biasanya hanya berbicara dengan apa yang dia seorang diri tahu dan pahami.

Karena tidak ada “komunikasi intelektual”, maka mereka pun tenggelam, karena karya-karya mereka tidak ada di dalam peta kebumian intelektual sejagat. Artinya. apa yang dia pikirkan, hanya dia seorang yang paham. Akibatnya, sebagai pemikir atau filsuf, mereka pun hanya hormat pada dirinya sendiri, sebagai akibat dari penyakit self centered.

Proses mengeluarkan “tersangkut dengan satu pemikiran” ini memang susah. Hal ini disebabkan ketidakmampuan dirinya untuk menguasai berbagai dasar-dasar berpikir di dalam ilmu pengetahuan. Di samping itu, mereka yang “tersangkut dengan satu pemikiran” biasanya tidak mampu berkomunikasi, apalagi menulis, dalam bahasa asing (Arab dan Inggris).

Baca Juga:  Akankah China-Rusia Bakal Masuk Jebakan Rawa Perang Asimetris dan Bom Waktu AS di Afghanistan?

Mereka tidak mampu mengakses tulisan atau karya terbaru yang terbit di berbagai belahan dunia. Mereka hanya mengandalkan konsep SPI (Sarjana Penerbit Indonesia).  Ini gejala seseorang yang sudah “tersangkut dengan satu pemikiran” yang kemudian mengantarkan dirinya sebagai seorang pemikir atau filsuf.

Gagasan yang dia pikirkan pun sangat susah dikomunikasikan dalam jagat raya rimba intelektual dunia.  Apa yang dipikirkan hanya untuk dia saja. Orang lain dipaksa mengerti dengan jalan berpikirnya. Lantas, karena sudah menganggap dirinya sebagai filsuf, maka orang lain dipaksa untuk memahami dirinya.

Gejala dari mulai “memahami orang lain” ke “dipahami oleh orang lain” merupakan proses perjalanan intelektual yang penuh suka dan duka. Saya melihat beberapa ilmuwan besar di barat dan timur, selalu memulai karir mereka sebagai seorang peneliti. Mereka menapaki pengelaman intelektual dalam berkarya dari mempelajari dan memahami pemikiran orang lain. Jam terbang di dalam membaca buku pun, tidak hanya dalam satu bahasa, melainkan berbagai bahasa. Jadi, sangat wajar ketika guru saya meminta saya untuk belajar berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa Jerman.

Dia ingin mengatakan bahwa saya masih sebagai peneliti yang harus haus dengan berbagai informasi ilmu pengetahuan. Beruntung saya memiliki “mentor akademik” yang mengarahkan saya secara terus menerus.

Jika anda salah melangkah dalam dunia intelektual, maka itu ada beberapa sebab: “tersangkut dengan satu pemikiran,” “tidak memiliki mentor akademik”, “ada penyakit self centered,” “tidak mau melakukan academic recharging,” dan “belum memahami maksud dari “memahami orang lain” ke “dipahami oleh orang lain.”

Kalau ini ada pada anda, maka sangat boleh jadi, anda adalah seorang “pemikir” atau “filsuf,” bukan sebagai “peneliti.”

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...