Take a fresh look at your lifestyle.

Residu Pilpres 2019 Dan Aceh 2020

1 593

Oleh: Murizal Hamzah
Wartawan dan Penulis Buku Biografi Hasan Tiro Jalan Panjang Menuju Damai Aceh.

Malaysia 2020, Wawasan 2020, atau Visi 2020 Malaysia dilontarkan oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad tahun 1991. Visi ini menyatakan Malaysia akan menjadi negara maju tahun 2020 yang meliputi aspek ekonomi, politik, sosial, kerohanian, psikologi, persatuan nasional dan sosial. Visi 2020 adalah harapan, mimpi, dan program negara/kerajaan bersama rakyat.

Kembali ke tanah air, Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo periode kedua 2019-2024 telah menelorkan misi, visi yang harus diselesaikan. Jokowi tetapkan 5 fokus selama 2019-2024 yakni antara lain pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia (SDM),dan reformasi birokrasi.

Lepas dari duka perang dan bencana alam, rakyat Aceh disajikan Pilkada Gubernur Aceh, bupati dan wali kota tahun 2006. Selanjutnya menuju Pilpres 2009, Pilpres 2014, dan Pilpres 2019. Dari tiga pilpres pasca-gempa dan tsunami 2004, pilpres yang bikin warga disudutkan dalam blok-blok adalah pada perhelatan Pilpres 2019.

Pilpres 2019
Dua peserta Pilpres 2019 dengan bumbu racikan agama membuat sebagian warga mabuk berpolitik dalam menentukan kepala negara. Boleh dikatakan, inilah pilpres yang mampu memisahkan persaudaraan sedarah dalam sebuah keluarga karena beda pilihan antara memilih Joko Widodo nomor 01 dan Prabowo Subianto nomor 02.

Demikian juga, ada puluhan warga yang diajukan ke pengadilan karena pendukung fanatik buta calon pilpresnya melakukan pencemaran nama baik atau fitnah. Ada yang masuk Istana Presiden dan masuk hotel prodeo karena melakukan tindakan kriminal berkaitan dengan pilpres.Di mana-mana warga sering menjadi korban dari pesta demokrasi.

Sementara elite politik seperti Prabowo telah menjadi bagian Istana Negara. Jika kalangan di atas sudah berdamai dengan kekalahannya, hal itu tidak semua turun ke bawah. Residu Pilpres 2019 masih membuncah yang ditandai dengan sentimen negatif kepada pendukung 01. Semestinya semua selesai setelah diumumkan sang juara.

Kita berada di era milenial. Dulu ujung pena lebih tajam daripada ujung pedang. Kini wifi gratis atau sekantong internet sama dahsyatnya dengan nuklir yang bisa melumak wilayah melalui hidangan info fitnah. Kita berada di era post-truth (pasca kebenaran). Post diartikan setelah atau melampaui.

Di era post truth orang tidak lagi peduli pada kebenaran fakta. Bahkan, orang tidak lagi mempermasalahkan atau mempertanyakan kebenaran. Kebenaran tidak lagi diukur berdasarkan nalar dan rasionalitas. Kebenaran ditentukan oleh emosi dan perasaan. Jika segumpal informasi sesuai kepentingan dan pera-saan, dia menerimanya dan disebarluaskan meskipun secara nalar kacau.

Baca Juga:  Kematian Republik dan Keraguan Kaum Terdidik

Hoaks bukan sekadar kabar bohong karena diproduksi atau disebarluaskan dengan perasaan tidak sedang berbohong. Pembohong masih mengakui kebenaran dengan menyembunyikan kebenaran. Tetapi pembuat dan penyebar hoaks tidak pernah mengaku sedang berbohong. Mereka masa bodoh dengan kebenaran karena sedang mengadu-aduk perasaan pemilih untuk kepentingan jangka pendek menang di Pilpres 2019.

Aceh 2020
Aceh 2020 adalah Aceh yang masih berkutat dengan masalah kemiskinan. Hingga tahun 2019, nanggroe ini masih sebagai provinsi nomor 1 termiskin di Sumatera dan nomor 6 di Indonesia.

Jumlah penduduk miskin di Serambi Mekkah sekitar 831 ribu orang. Permasalahan besar ini tidak bisa diselesaikan oleh Pemerintah Aceh. Semua pihak harus senapas menarik gerobak dhuafa menuju gerbong kemakmuran. Bershadaqah menurut keahlian masing-masing.

Masalah lain, Aceh nomor 3 terbanyak stuntingbalita di Indonesia setelah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Barat (Sulbar). Apreasiasi kepada Pemerintah Aceh yang telah menjawab masalah stunting dengan program Geunting (Gerakan Upaya Pencegahan dan Penanganan Stunting). Masa depan Aceh akan suram jika kita gagal mengantisipasi generasi stunting yang meru-pakan anak-anak Aceh pada tahun 2050. Untuk itu pada 2020, perkara ini harus menjadi masalah bersama diselesaikan. mereka adalah sumber daya manusia (SDM) yang merupakan aset daerah/negara yang paling penting. SDM adalah modal yang tidak pernah habis dikuras dan bisa ditingkatkan nilai tambah dan nilai intelektual.

Perkara lain yang menghantui Aceh pada 2020 yakni masalah perbedaan mazhabatau aliran organisasi Islam terus berlanjut. Ini konflik tahunan yang diwariskan dari tahun ke tahun. Mengusir pendakwah dengan tuduhan berbeda mazhab atau tudingan lain masih berlanjut. Tentu saja, hal-hal yang kontroversial ini tidak mengun-tungkan Aceh dari aspek ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Baca Juga:  Relasi Pertahanan Semesta (Cosmic Defense) dengan “Gerobak Pengetahuan” Lokal di Nusantara

Daerah ini disematkan sebagai wilayah yang tidak toleransi menghargai perbedaan aliran walaupun masih satu napas kalimat Tauhid. Solusi dari perkara sensitif ini yakni keterbukaan bahwa kita tidak memono-poli kebenaran dengan menghormati pendapat orang lain selamamasih dalam shaf Islam. Kunci surga tidak dimiliki mutlak oleh satu-satunya organisasi masyarakat.

Setelah masalah yang dialami oleh umat dan ulama, persoalan selanjutnya yakni oleh umara. Korupsi, pungli, berbelit-belitnya birokrasi, ketidakterbukaan pemerintah Aceh terhadap anggaran yang dialokasikan kepada masyarakat dan sebagainya.

Mengutip laporan Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) yang fokus di bidang anggaran dan korupsi, mencatat kerugian negara akibat tindak pidana korupsi di Aceh sepanjang 2018 setara 4.984 unit rumah dhuafa. Maksudnya total kerugian akibat korupsi di Aceh pada 2018 mencapai Rp 398,75 miliar. Jumlah ini setara dengan 4.984 unit rumah dhuafa. Dari Rp 398,75 miliar.

Total kerugian kasus korupsi itu, terbanyak ditangani KPK mencapai Rp 314 miliar, menyusul Kejaksaan Rp 74,2 miliar, dan Kepolisian sebanyak Rp 11,5 miliar. Kerugian itu berasal dari 41 kasus korupsi yang ditangani pada 2018, yaitu ditangani KPK tiga kasus, kepolisian 16 kasus, dan kejaksaan 22 kasus dengan tersangka 86 orang.

Tersangka dari kalangan eksekutif dan swasta serta dua korporasi atau perusahaan sebagai pelaku tindak pidana korupsi. Kerja keras lain, Aceh pada 2020 yakni berkaitan dengan narkoba. Bumi Tjoet Nja Dhien ini sudah menjadi jalur distribusi sabu-sabu ke Sumatera dan Jawa. Ini sangat mengkhawatirkan ketagihan sabu-sabu memicu aksi kriminal untuk membeli sabu-sabu.

Badan Narkotika Nasional (BNN) 2019 merilis daftar kawasan yang rawan dan rentan narkoba. Setidaknya, terdapat 654 kawasan yang berada di titik rawan dan rentan narkoba di 34 provinsi. Aceh menempati urutan kedua dengan jumlah 64 titik rawan dan rentan narkoba, setelah DKI Jakarta urutan pertama dengan jumlah 117 titik. Sementara, Sumatera Utara urutan ke-3 memiliki 33 titik.

Baca Juga:  Pengalaman Belajar Studi Islam: Dari Orientalis ke Oksidentalis

Dalam rilis resminya, BNN menyebutkan bahwa 64 titik rawan dan rentan narkoba di Aceh tersebar di 11 kabupaten/kota. Kabupaten Bireuen dan Kota Lhokseu-mawe merupakan daerah dengan jumlah titik tertinggi, yakni 12 titik. Disusul Kota Langsa dan Kabupaten Pidie masing-masing 6 titik, Aceh Selatan, Gayo Lues, dan Pidie Jaya 5 titik, Tamiang dan Banda Aceh 4 titik, Sabang 3 titik, dan Aceh Besar 2 titik.

Pelajaran dari Pilpres 2019 yakni setiap informasi harus ditabayun atau verifikasi. Kita percaya salah satu residu Pilpres 2019 yakni akan terus hilir mudik hoaks alias kabar fitnah. Pernyataan fitnah yang terus direproduksi akan dianggap sebuah kebenaran bagi segelintir warga yang fanatik buta. Menteri Propaganda NAZI Joseph Goebbelsbersabd, “Kebohongan yang dilaku-kan secara terus-menerus akan bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran.“

Aceh 2020 adalah peluang bagi kita yang masih komit pada Aceh untuk menguraikan benang kusut. Dari mana menguraikan benang kusut ini? Salah satunya dimulai dari rumah tangga. Adalah orang tua yang pertama bertanggungjawab membina akhlaq anak-anaknya.

Rumah tangga adalah sekolah pertama dan utama (madrasatul ula). Jangan lepaskan masalah integritas putra-putrinya untuk dididik seluas-luasnya oleh guru di sekolah. Alternatif selanjutnya, setiap individu memperbanyak literasi agar bisa lepas dari gudang kebodohan, kemalasan, dan fanatik buta yang tak berdasar.

[Sumber: Sebagian dari isi buku Aceh 2020: Diskursus Sosial, Politik dan Pembangunan. Selanjutnya pengutipan tulisan ini harus mencantumkan link https://sagoe.id]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...