Take a fresh look at your lifestyle.

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 4)

0 706

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad.
Dosen Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Setelah pergantian dan perbaikan selesai, kami langsung menuju ke Jemabatan Suramadu.  Tujuan saya ke jembatan yang menghubungkan antara Surabaya dengan Madura ini adalah ingin makan siang di Bebek Sinjay, restoran yang sangat terkenal di Pulau Madura. Restoran ini pernah saya datangi 10 tahun yang lalu. Awalnya, saya agak khawatir ke restoran ini, karena terkadang harus mengantri yang agak cukup lama, hanya untuk sekedar satu piring nasi yang ditemani oleh bebek goreng.

Ketika melewati jembatan Suramadu, saya lantas membayangkan bagaimana jika jembatan serupa ada di Aceh, yang menghubungkan Banda Aceh dengan Pulau Weh (Sabang).  Terlebih lagi, jika ada jembatan yang menghubungkan antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Jembatan Suramadu kami lewati secara lancar. Bagi saya Pulau Madura memiliki terkesan tersendiri, karena beberapa guru saya berasal dari pulau tersebut. Oleh sebab itu, saya memiliki hubungan emosional dengan Pulau Madura. Bahkan beberapa karib saya berasal dari Pulau Madura.

Diaspora Madura memang amat luar biasa. Di Surabaya ada tiga kelompok besar masyarakatnya, yakni Mataram, Arek, dan Madura. Begitulah dulu dikabari oleh seorang karib tentang pengelasan masyarakat di Madura. Ketika berjumpa mereka di bandara-bandara di Pulau Jawa, ciri khas orang Madura memang tidak dapat ditutupi, dimana mereka bersarung dan berpeci, serta memakai bahasa daerah mereka, ketika berkomunikasi antara satu sama lain. Karena itu, tidak sulit mengenali orang Madura. Setelah kami menikmati makan siang di Bebek Sinjay, perjalanan dilanjutkan menuju kota Yogyakarta. Tujuannya adalah untuk bersilaturrami dengan sahabat-sahabat di kota Gudeg tersebut.

Namun, siang itu  jalanan yang begitu padat. Truk yang menghadang kami pun, terkadang mencapai 3 atau 4 di hadapan. Terus terang, belum pernah pengalaman saya menyalip truk di jalanan dengan sepeda motor. Kehadiran truk di jalanan yang membuat jalanan banyak berlobang dan bergelombang mengindasikan bahwa di kawasan tersebut adalah daerah industri. Terlebih lagi, kota Surabaya menjadi hub untuk pengiriman barang-barang sembako ke wilayah timur Indonesia. Tidak mengejutkan jika mereka merajai jalanan di sekitar kota Surabaya.

Baca Juga:  Aceh, Tapi Jawa

Bagi pemotor yang sudah berpengalaman, mengendarai kendaraan di belakang truk adalah hal yang biasa. Salip menyalip adalah hal yang biasa. Tidak hanya truk, merayap di jalanan Pulau Jawa juga harus berhadapan dengan supir bus. Mereka benar-benar menguasai jalan raya. Tidak jarang, kami harus menepi di bahu jalan, jika bus yang mengambil secara paksa jalur kanan mereka. Di Pulau Jawa, bus-bus memang dikenal sebagai raja jalanan. Mereka melaju kencang, sambil membunyikan klakson.  Dalam satu kesempatan saya diberitahu alasan mengapa bus di pulau Jawa seperti preman jalanan. Di sini, supir dipaksa untuk mengejar waktu, supaya ketika sampai di terminal mereka bisa memiliki waktu yang agak lama untuk beristirahat. Semakin cepat mereka sampai di titik tertentu, maka akan semakin lama jatah mereka untuk beristirahat. Sebab, mereka terkadang mengendarai bus selama berjam-jam. Tentu saja, kelelahan melanda mereka. Belum lagi konsentrasi yang terkadang tidak bisa maksimal.

Tidak mengejutkan, selain kearena hobi mengendarai bus secara cepat dan tuntutan waktu istirahat, terkadang kecelakaan demi kecelakaan kerap terjadi. Bahkan di kalangan warga tempatan, beberapa merek bus menjadi “malaikat maut” bagi pengguna jalanan. Sebenarnya, tradisi bus yang ngebut memang bukan hanya monopoli bus di Pulau Jawa. Di Aceh pun tidak dapat dielakkan. Hanya saja, bus-bus di Aceh lebih banyak merajai jalanan pada malam hari. Walaupun kecelakaan juga sering terjadi, namun biasanya dikarenakan supir kelelahan atau mereka menabrak sesuatu saat di jalan raya Banda Aceh – Medan.

Bus, truk, dan sepeda motor memang menjadi bagian penting di dalam orkestra jalanan di Pulau Jawa. Lautan sepeda motor, dimana ada yang bekerja lintas kabupaten atau linta provinsi, menyebabkan kepadatan dan kemacetan yang amat luar biasa. Belum lagi kemunculan ojek online di pinggir jalan dan di jalanan, yang benar-benar menyebabkan muncul lautan sepeda motor. Namun demikian, ada lagi kelompok kendaraan yang begitu menakutkan yaitu angkutan kota (angkot). Mereka bebas parkir di bahu jalan, kapan mereka harus berhenti, baik menaikkan atau pun menurunkan penumpang. Kondisi ini dijumpai di beberapa kota besar, dimana terkadang angkot menjadi bagian memori yang menakutkan bagi saya yang mengendarai sepeda motor besar.  Hal ini sangat terasa ketika saya memasuki Kota Palembang dan Medan. Jadi, jalanan di Indonesia memang hampir mirip dengan jalanan di negara-negara berkembang lainnya. Jalanan menjadi etalase kehidupan rakyat Indonesia.  Pergerakan manusia cukup dinamis dan fantastis.

Baca Juga:  Aksi Mahasiswa dan Omnibus Law

Hari itu, kami memutuskan untuk menginap di Kota Madiun.  Seperti biasa, kami mendapatkan penginapan yang murah meriah. Penginapan kami seperti kos-kosan yang ikut daftar di dalam aplikasi penginapan online. Karena kepenatan dengan jalanan yang cukup mengerikan selama dan dari kota Surabaya, kami memilih beristirahat lebih cepat.  Ketika sampai di penginapan saya lantas berpikir bagaimana situasi pulau Jawa jika saat mudik. Tentu perpindahan manusia akan terjadi secara besar-besaran. Istilah mudik menjadi begitu melekat di dalam setiap individu yang merantau di Indonesia. Saat menjelang lembaran, Indonesia memang memperlihatkan orkestra yang lebih dahsyat lagi.

Bagi mereka yang merantau, balik kampung adalah ritual yang tidak dapat diabaikan.  Merek a akan bersusah payah agar bisa mudik ke kampung halaman. Jika bulan puasa adalah bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka di 10 akhir bulan suci ini menjadi semacam festival jalanan di seluruh Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Namun, selama Covid-19 fenomena mudik tidak begitu terasa, karena ada intervensi pemerintah melarang mudik.  Tidak mengejutkan jika kemudian ada anggapan mudik merupakan salah satu kebudayaan di Nusantara yang akan terus dipelihara oleh rakyat Indonesia sampai kapan pun.

Jalan raya menjadi semacam lanskap sosial untuk memahami bagaimana kondisi kekinian di Indonesia. Di situ bisa menujukkan hubungan sosial, kekuatan ekonomi, sosial-politik, dan sosial kebudayaan.  Di setiap gerakan putaran roda dan tangan yang meminta sumbangan atau uluran tangan, memiliki makna tersendiri terhadap perjalanan bangsa ini.  Dari jalan raya menghubungkan masyarakat Indonesia secara luas. Inilah satu lanskap kehidupan bangsa ini yang tidak begitu mudah untuk dipahami, jika tidak pernah menjalaninya sebagai musafir di jalan raya di republik ini.[]

Baca Juga:  Dari Wuhan Aku belajar Toleransi

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...