Take a fresh look at your lifestyle.

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 2)

0 689

Oleh:Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad.
Dosen Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Tangga 7 Februari 2021, pertualangan dimulai. Kami membereskan semua perlengkapan dalam tiga box yang bertengger di Versys 250 kami.  Pertualangan dimulai dari Pantai Kuta Bali. Dikarenakan kami menunggu beberapa baju yang dikeringkan, maka kami berangkat pada siang hari. Namun, sebelumnya di pagi hari, lampu sen kanan depan terlihat patah.  Sedikit panik, namun kami yakin untuk sepeda motor yang mengundang perhatian, kemudian diparkir di ujung jalan gang yang buntu. Kebetulan penginapan kami memang masuk gang buntu. Parkirannya diluar penginapan, hanya ditemani oleh CCTV. Tanpa harus menuduh siapa pelakunya, kami kemudian memperbaiki dengan menggunakan lem panas yang sangat kuat.

Petugas hotel yang berasal dari Lombok, membantu memperbaiki untuk merekatkah kembali patahan tersebut. Setelah berhasil, kami pun saling menyapa dan bertanya asal. Dia mengakui bahwa selama Pandemi Covid-19, Kuta Bali memang terlihat sepi. Tamu pun menurun secara drastis. Bahkan, ada beberapa penginapan yang terpaksa gulung tikar. Hal ini disebabkan biaya operasional yang tidak sanggup ditanggulangi. Kesedihan mereka rupanya mengaburkan perasaan kesedihan patahnya lampu sen sepeda motor kami. Harus diakui bahwa selama kami jalan-jalan di Pulau Bali, terlihat sama sekali tidak ada rentak kehidupan yang menunjukkan Bali adalah salah satu provinsi yang memiliki vibrasi pariwisata yang nomor wahid di Indonesia.

Bahkan ketika kami jalan-jalan di Ubud, mata penjual pernak-pernik seakan-akan mengharapkan kami sangat menyentuh barang mereka dan membelinya. Mereka mengakui bahwa kadang sampai tengah hari, barang dagangan mereka belum ada yang laku. Namun karena kami hendak kembali dengan sepeda motor, tentu agak berat untuk membelikan oleh-oleh yang memakan tempat di dalam box Versys 250.  Situasi perekonomian yang terpuruk akibat Covid-19 memang telah mengilas mereka yang mengangtungkan hidup mereka dari berjualan pernak-pernik di beberapa provinsi yang kami lewati.

Baca Juga:  Catatan Sagoe ID: Quo Vadis Aceh Dalam Sistem Ekonomi Nasional dan Global

Setelah keluar dari gang buntu, kami melirik arak ke Gilimanuk, sebagai pelabuhan penyeberangan ke Pulau Jawa. Sepeda motor kemudian menyisir perkampungan di Denpasar. Arah kami tujukan ke Jembrana. Siang hari yang terik. Lalu lintas yang cukup ramai. Lampu traffic yang selalu menyapa kami di setiap perempatan. Semua ini membuat perjalanan kami sangat menyesakkan. Karena terik mata hari yang amat kuat, membuat terkadang saya mengalami dehidrasi.  Terkadang saya memberhentikan Versys 250 untuk beristirahat. Salah satu ciri khas jalanan Bali adalah ketertiban, sehingga saya terkadang merasakan nyaman, walau harus mengawal sepeda motor yang beratnya mencapai 200 kilo.

Keringat dingin keluar terkadang keluar, bukan karena kepanasan, melainkan harus mengawal keseimbangan sepeda motor yang cukup berat untuk ukuran postur tubuh kami. Salah satu keasyikan melewati perkampungan di Bali adalah keindahan alam dan tata letak perumahan masyarakatnya yang mengikuti arah mata angin yang dikenal dengan istilah Kaja. Karena bangunan mengikuti sistem kosmologi Bali, maka alam dan bangunan seolah-olah menyatu dan tidak ada yang saling disakiti.  Sistem membangunan bangunan yang tidak begitu menjulang ke langit dan setiap rumah ada tempat khusus untuk peribadatan, membuat pulau ini terkesan diatur dengan keseimbangan kosmik, antara manusia dengan alam dan manusia dengan tuhan yang mereka sembah.

Ketika saya menginap di salah satu penginapan di Pulau Bali, pemiliki Homestay menjelaskan mengapa Bali penuh dengan kedamaian. Hal ini disebabkan orang Bali membakar dupa selama 24 jam dan membuat Yadnya (sesajeh), serta memahami betul sistem kalender harian, dimana ada hari yang ada pantangan atau tidak. Semua hal ini membuat pulau ini, menurutnya, sangat harum. Makhluk ghaib tentu saja sangat menyukai aroma dupa yang dibakar oleh masyarakat setempat, tuturnya. Ceritanya ini tentu saya respon dengan anggukan berkali-kali.

Baca Juga:  Prang Hana, Damee Pih Tan

Setelah melewati Jembrana, kami pun disapa oleh hujan yang sangat deras. Pada sore hari kami kemudian berhenti di salah satu masjid untuk menunaikan shalat. Awalnya saya khawatir agak susah menemukan musalla atau masjid, selama perjalanan kami di Pulau Bali. Namun, dari kawasan Jembrana, kami melihat beberapa masjid. Rupanya masyarakat Muslim memang menjadi minoritas di provinsi ini. Setiap hentian, kami menyapa atau disapa oleh masyarakat setempat atau para musafir yang kebetulan sedang melakukan perjalanan. Dari mereka terkadang mendapatkan berbagai informasi yang unik. Misalnya ada masyarakat yang menuturkan bagaimana membedakan rumah mereka dengan orang Hindu Bali. Kemudian, kelompok perantauan dari luar Bali yang menetap di Bali, untuk mencari nafkah. Cerita mereka mengesangkan bahwa Bali memang diperuntukkan untuk bisnis pariwisata semata. Hal ini mengakibatkan bisnis penginapan, kuliner, dan bisnis-bisnis lainnya menjamur. Mereka rata-rata para perantau,  yang kemudian beradaptasi dengan budaya Bali.

Hujan yang menyapa aspal, membuat kami kemudian mengalami kendala untuk penglihatan. Karena begitu deras hujan, hingga agak susah menatap jalanan, yang terkadang dihadang oleh lampu sorot para pengendara dari arah yang berlawanan.  Karena itu, untuk mencapai pelabuhan penyeberangan, kami harus berhenti berkali-kali di warung-warung di pinggir jalan. Setelah hujan mereda, kami pun melanjutkan perjalanan. Namun demikian, kami harus mencapai pelabuhan secepatnya, supaya memudahkan mencari penginapan di Banyuwangi.  Akhirnya jam 7 malam, ban sepeda motor memasukan kawasan pelabuhan.

Sesampai di sini, kami membeli tiket penyeberangan. Tanpa ada kendala yang berarti, kami pun masuk ke dalam Ferry untuk merayap ke Pulau Jawa. Pulau Bali telah kami tinggalkan.  Begitu melihat Google Maps, saya melirik peta sambil berpikir, rupanya perjalanan baru dimulai. Sambil melihat jarak di setiap antar kota, kami pun mencari cerita dan berita tentang jalanan yang akan kami lewati. Ada berita banjir di Jawa Tengah. Ada cerita begal atau rampok di beberapa titik perjalanan. Hampir semua orang yang kami jumpai, selalu menasihati untuk berkendara di siang hari. Kalau malam hari, kawasan yang akan kami lewati, sangat boleh jadi dinanti oleh para begal.

Baca Juga:  Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 3)

Begitu jam 8 malam, ferry menyentuh pelabuhan Ketapang. Setelah keluar kami pun mencari penginapan yang agak dekat, untuk menuju ke arah Surabaya. Namun, perjalanan kami harus kami sesuaikan dengan kewajiban kampus, yaitu menilai nilai mahasiswa ke portal. Akhirnya, kami mendapatkan penginapan di salah satu sudut kota di Banyuwangi. Pakaian kami kebasahan, karena hujan yang menyapa kami saat di Pulau Bali. Sengaja baju tidak kami ganti, sebelum sampai di hotel. Ada satu anggapan bahwa baju yang basah karena hujan, akan mongering dengan sendirinya, jika kita terus pacu sepeda motor.

Malam itu kami menginap di penginapan sederhana. Harganya tidak mencapai 100 ribu rupiah. Di penginapan ini dikelola oleh keluarga yang membukan pelajaran membaca Alquran bagi usia lanjut. Karena itu, penginapan ini ditulis sebagai Penginapan Syari‘ah. Begitu masuk kamar, kami pun mulai berbagi tugas. Pesan makan melalui aplikasi online. Mencuci baju yang kotor. Menyapa anak-anak di rumah. Menjawab berbagai pesan di inbox pesan. Menelpon beberapa rekan yang sudah menghubungi kami berkali-kali. Semuanya harus dilakukan pada satu waktu. (Bersambung).[]

Simak juga video Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh, link dibawah ini;

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...