Take a fresh look at your lifestyle.

Menghargai Ibu (bukan) di Hari Ibu

0 7

Oleh: Mutmainnah.
Mahasiswi UIN Ar-Raniry Prodi Sosiologi Agama dan Siswi Sekolah Kita Menulis.

Ibu merupakan sosok perempuan yang diciptakan Allah untuk melahirkan dan juga menyusui anak. Tak terlepas dari itu peran Ibu juga sangat penting dalam kehidupan dan merupakan salah satu orang pertama yang sangat dekat dengan anak. Ibu yang berjuang keras dalam melahirkan seorang anak dan mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati. Setelah bayi lahir ke dunia kerisauan dan kepedihan itu seketika hilang disaat melihat tangisan seorang bayi. Patut kita sebagai seorang anak menghargai juga menyayangi Ibu yang sudah berjuang dalam melahirkan kita.

Ketika seorang anak yang sedang tidur seekor nyamuk pun tidak boleh ada yang menggigit. Siang malam dijaga, dibuai, diberi kenyaman dengan penuh kasih dan sayang. Rela begadang demi menjaga si buah hatinya yang telah lahir kebumi. Cucuran keringat tak dapat kita hapuskan dengan sehelai kain pun atau jasa dan kebaikannya tak terbayarkan dengan banyaknya harta yang kita miliki.

Apalagi di masa pandemi ini peran Ibu juga sangat antusias dalam mendidik juga membimbing anak. Dimana peran Ibu juga sekaligus menjadi guru dalam masa pandemi. Kita ketahui bahwa saat ini sistem pembelajaran mennggunakan sistem daring ( dalam jaringan ). Tentu saja orang tua dirumah baik seoarang Ayah, Ibu, kakak, dan juga anak harus bisa beradaptasi dengan keadaan situasi seperti ini.

Disamping berperan sebagai Ibu sekaligus berperan menjadi guru. Belajar bagaimana memahami disetiap mata pelajaran anak. Bahkan seorang Ibu rela membayar mahal pengajar agar pelajaran disekolah ataupun dikampus mudah dipahami. Kesetiaan seorang ibu memang tidak kita ragukan lagi. Jika kita telurusi lebih dalam lagi. Makna seorang Ibu sangat dalam sekali. Ketika ada sebuah permasalahan yang melukai batinnya apakah itu tentang problematika antar suami atau masalah lainnya.

Namun Ibu tidak pernah menampakkan wajah yang penuh dengan kesedihan, melainkan memasang wajah dengan drama penuh kesenangan. Kesedihan dan kerisauan disimpan didalam lubuk sanubari yang penuh dengan permasalahan. Terkadang Ibu ingin berteriak dan mecurahkan segenap isi hatinya. Tetapi, apalah daya, Ibu tidak ingin anak-anaknya tau akan kesedihan yang dialaminya.

Baca Juga:  Memahami Ragam Agen dalam Aktifitas Intelijen dan Spionase

Dalam Hadits Rasulullah SAW juga menyebutkan keistimewaan tentang seorang Ibu yang berbunyi “Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah”. “Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia ini.” Rasul menjawab, “Ibumu.”Kemudian dia bertanya lagi”, “Lalu siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu.” “Kemudian lgi, ya Rasul,” tanya orang itu. Rasul menjawab, “Ibumu.” Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; “Kemudian, setelah itu siapa, ya Rasul?” “Bapakmu“, jawab Rasulullah.

Dari Hadits tersebut sudah sangat ditegaskan oleh Rasulullah bahwa peran Ibu memang sangat luarbiasa dan menjadi salah satu pusat perhatian yang utama yang paling kita periotaskan. Hadits tersebut sangat jelas bahwa Ibu sangat penting dalam kehidupan. Betapa berharganya jasa dan pengorbanan Ibu dalam mengasuh dan mendidik kita. Harta dan tahta sekiranya tak mampu membalas kasih sayang seorang Ibu. Peluh yang menetes di dahinya tak terhapuskan dengan sehelai handuk pun. Tentu saja dalam hadits tersebut menekakan pentingnya berbuat baik kepada Ibu.

Untuk lebih mendalami kasih sayang seorang Ibu kita melihat perjuangan Siti Hajar yang berusaha mencari air untuk anaknya Ismail yang menangis tersedu-sedu ingin meminta air. Siti Hajar yang berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali sia-sia. Pada saat itu keadaan Makkah yang sangat gersang juga tidak ada perpohonan membuat Ismail dan Siti Hajar tak dapat untuk menemukan air. Lalu Siti Hajar menghampiri anaknya, dan meminta pertolongan kepada Allah. Seketika singgasana saat itu Ismail menghentakan kakinya dan keluarlah air yang sampai saat ini mengalir yang dikenal dengan nama air zamzam yang tidak pernah kering. Begitulah perjuang Ibu yang tidak ingin anaknya tersakiti atau teraniaya dalam situasi apapun.

Perasaan Ibu akan sangat terluka jika melihat anaknya terluka jika ada yang menyakiti. Ibu yang rela berusaha menjadi yang terbaik juga yang paling dibutuhkan oleh anaknya. Setetes saja air mata seorang anak jika ada yang ada menyakiti tentu hati seorang Ibu menjadi tekoyakan. Kesedihan yang dialami anaknya akan membuat seorang Ibu merassa tidak aman dan berikhtiar untuk melakukan sesuatu agar anaknya bahagia. Apapun akan dilakukan oleh Ibu walaupun itu berat dijalaninya. Tapi itu lah kekuatan seorang mampu mengatasi segalanya.

Baca Juga:  Komersialisasi Sesalehan dan Otokritik Untuk Mahasiswa

Secara sederhana, peran Ibu juga tidak hanya dirumah saja, melainkan ada yang berprofesi sebagai pengajar seperti guru/dosen. Peran tersebut dilalu dengan hati yang ikhlas juga rendah hati. Kendati pun, selain mempunyai peran penting dirumah namun juga harus produktif dalam mengajar sebagai pengajar disekolah atau dikampus. Tidak hanya itu peran guru maupun dosen yang perempuan belum menikah, mereka berusaha dan belajar bagaimana menjadi guru sekaligus Ibu ditempat mengajar. Berikhtiar dan menjadi tempat pengajar juga membina anak-anak muridnya. Perjuangan yang dilalui oleh perempuan pengajar yang belum menikah juga patut kita apresiakan. Memang ia belum melahirkan atau mempunyai anak, tetapi ia akan berusaha untuk menjadi terbaik bagi anak-anak muridnya.

Berangkat dari itu semua, belum lagi berbagai problematika yang ada disekolah atau dikampus yang dihadapi. Misalnya saja kesalahpahaman antara wali murid dan akhirnya menimbulkan perseteruan pro dan kontra. Belum lagi ada siswa/mahasiswa yang mengerti mata pelajaran apalagi di era pandemi ini yang menggunakan sistem daring (dalam jaringan). Peran Ibu juga guru harus siaga juga menyiapkan bahan-bahan materi yang akan disampaikan kepada anak-anak muridnya.

Seyogianya, jika kita telaah lagi peran Ibu sebenarnya sangat luarbiasa sekali daripada pekerjaan yang lain. Ibu mampu menyelesaikan tugasya sebagai seorang Ibu tanpa ada kata menyerah. Masalah yang datang bertubi-tubi menghampirinya dilalui dengan sabar. Terkadang Ibu ingin berteriak ingin lelah dengan segala cobaan dan masalah yang dihampirinya, namun ia masih mengingat ada yang harus ia perjuangkan dalam hidupnya. Masalah yang dijalani Ibu hanya cukup memendam dalam hati sanubarinya.

Seiring berjalannya waktu, peran Ibu sering diabaikan oleh anak maupun suami, anak juga masyarakat. Sistem masyarakat atau budaya patriarki yang menjadi paradigma atau perspektif sangat kental sekali di masyarakat. Peran perempuan yang hanya sering kategorikan dengan harus dirumah dengan profesi sebagai sumur, dapur dan kasur menjadi perspektif yang sangat kuat sekali dan tidak bisa diubah. Hal itu menjadi sebuah kendala juga ketidakadilan bagi perempuan dan harus dihilangkan. Perspektif masyarakat yang mengkategorikan profesi perempuan hanya di sumur, dapur dan kasur secara langsung itu adalah tindakan ketidakadilan perempuan. Ketika perempuan ingin berkarya ingin menggapi  tetapi terhalang karena

Baca Juga:  Aksi Mahasiswa dan Omnibus Law

Banyak sebagian orang yang merendahkan peran Ibu yang hanya bekerja dirumah saja. Seperti memasak, mencuci juga melayani suami dan mendidik anak. Hal itu sering dikatakan peran Ibu yang hanya dirumah tidak memiliki  pekerjaan. Padahal justru peran Ibulah yang sangat banyak dalam kehidupan. Kata dirumah saja seolah menjadi suatu perspektif remeh temeh dikalangan orang dan menganggp itu bukan sebagai pekerjaan.

Pekerjaan yang tidak dibayar dan tidak dibayarkan dengan apapun adalah Ibu. Perempuan hebat yang mampu mengerjakan dan melewati ujian dan cobaan dengan lapang dada. Sakit dan rintihan air mata karena tidak dihargai atau sering dilakukan tindak kekerasan mampu dilewati oleh seorang Ibu. Ocehan dan makian serta kesulitan dialami Ibu kita tidak pernah tahu. Apa yang dirasakan oleh Ibu kita tidak pernah tahu. Karena kita sibuk dengan urusan masing-masing.

Tetapi Ibu  menerima anggapan tersebut dengan ikhlas dan tidak menghiraukannya. Yang terpenting dalam keinginan seorang Ibu adalam suami dan anak-anak nya selalu dalam keadaan sehat dan jauh dari mara bahaya. Ketika anak-anaknya sukses menjadi suatu kebanggan bagi seorang Ibu yang tak bisa dibalaskan. Air mata dan senyuman terpancar di wajah seorang Ibu membuktikan bahwa kebahagiaannya adalah melihat orang-orang sekitarnya sukses dan bahagia.

Untuk itu kita haruslah berbakti juga mengahrgai seorang Ibu. Mungkin kita tidak bisa membalas dengan banyaknya harta atau emas seta memberi sebuah jabatan. Namun setidaknya kita selaku insan yang mempunyai budi pekerti dan akal yang baik haruslah berbakti kepada Ibu dan tidak menyakiti perasaan hati seorang Ibu. Sayangilah ia selagi masih hidup didunia berikan ia kebaikan dan belas kasih dan sayang sebagai seorang anak yang berbakti Ibu.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...