Take a fresh look at your lifestyle.

Mawardi Ismail: Dosen Ahli Segalanya

0 962

Oleh: M. Adli Abdullah
Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Kopelma Banda Aceh, dan anggota permanen di International Collective Support of Fish-worker (ICSF).

Make Poverty History  (Buat Kemiskinan Menjadi Sejarah) – Nelsen Mandela

Kalimat itulah yang cocok, saya berikan kepada sosok Mawardi Ismail dalam pandangan saya. Kalimat itu mirip sekali dengan kampanye Nelsen Mandela selama hidupnya, untuk membuat kemiskinan sebagai sejarah melalui pendidikan.

Awalnya, saya sebagai anak dari keluarga miskin dan yatim pada usia anak-anak. Tidak memiliki cita-cita menjadi dosen dan pengusaha. Apalagi sebelumnya, pada usia kelas 2 SD, Abu saya meninggal, beliau berpesan kepada Umi saya.

“Meyoe awak nyoe han ek neu peusikula, neujak intak bak Tgk Ahmad Puloe Reudep” (Jika tak sanggup mensekolahkan anak ini, silahkan antar ke Tgk Ahmad Puloe Reudep).

Tgk Ahmad Puloe Reudep adalah sahabat karib Abu saya, beliau adalah orang tua dari Tgk Nasruddin Bin Ahmad, mantan juru runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang juga murid dari Abu Tumin. Begitulah sekilas potret kemiskinan yang kami alami.

Wasiat tersebut, diceritakan Umi kepada saya ketika masih sekolah di MTsN. Abu saya  mengharap supaya anaknya dapat sekolah tinggi. Karena wasiat itu, saya bermimpi untuk bekerja apa saja, asal saya bisa sekolah sampai perguruang tinggi. Setelah menamatkan MAN I Banda Aceh, tahun 1984 saya diterima kuliah di Fakultas Hukum Unsyiah. Setahun kemudian 1985, saya diterima juga kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Kuliah di dua Fakultas rupanya menganggu rutinitas saya; mengaji dan jualan ikan di Lamnyong.

Tepat pada akhir 1985, keluarglah pengumuman dominasi penerima beasiswa Supersemar di Fakultas Hukum. Begitu melihat, saya terkejut nama saya tidak termasuk dalam dominasi penerima beasiswa, padahal dari segi syarat akademik saya pernah dapat IPK 3,8. Saat itulah, besoknya saya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum menghadap Bapak Mawardi Ismail.

Beliau saat itu, pada usia 34 tahun sudah menjadi Dekan III bidang kemahasiswaan di Fakultas Hukum Unsyiah. Kami sesama mahasiswa heboh ketika itu, seorang anak muda menjadi pembantu dekan. Saya memberanikan diri bertemu beliau, karena saya tidak mau lagi jualan ikan di Lamnyong untuk biaya kuliah.

Begitu masuk ke ruang Bapak Mawardi, sambil membawa berkas-berkas akademik untuk mempertanyakan kenapa saya tidak masuk dalam dominasi penerima beasiswa itu, langsung dengan dingin beliau menjawab.

“Penerimaan beasiswa supersemar sudah di tutup” jawabnya.

“Saya membutuhkan beasiswa itu bapak, supaya saya fokus belajar, tidak lagi menjual ikan di Pasar Lamnyong” lanjut saya

“Tidak boleh, tahun depan saja” jawabnya lagi.

“Kalau tidak boleh, Bapak sebagai Wakil Dekan, saya minta bantu Bapak beritahu dosen-dosen disini, supaya dapat membeli ikan sama saya di Pasar Lamnyong, supaya saya bisa selesai kuliah” lanjut saya.

Baca Juga:  Letnan Kolonel TNI (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar; Calon Pahlawan Nasional

Mendengar itu, Bapak Mawardi terdiam. Beliau melanjutkan:

“Untuk apa kamu pergunakan beasiswa supersemar ini” tanyanya lagi.

“Saya mau bayar SPP, dan sebagian lagi akan saya kursus Bahasa Inggris, karena setelah disini saya akan belajar ke luar negeri” jawabnya saya ketika itu.

Mendengar jawaban dari saya seperti itu, beliau meminta saya daftar lagi tahun depan, sambil mengembalikan berkas yang saya letakkan di atas meja beliau. Saya tidak mau menerima berkas tersebut, tidak tahu juga dikemanakan berkah itu. Al hasil, proses wawancara penerima beasiswa terus berlanjut, banyak kawan sesama mahasiswa ikut serta dalam proses seleksi.

Namun apa yang terjadi setelah pengumuman daftar penerima beasiswa? Nama saya menjadi urutan pertama penerima beasiswa itu. Sungguh ajaib, nasib berubah?

Itulah sosok Bapak Mawardi Ismail. Rupanya beliau lah yang membantu saya, padahal saya sama sekali tidak kenal sebelumnya. Sosok yang bijaksana dalam melihat persoalan sosial di sekelilingnya. Hari itu juga, setelah melihat pengumuman, saya datang kembali ke ruang Bapak Mawardi Ismail, sambil mengatakan:

“Pak! Saya diterima penerima beasiswa” kata saya.

“Iya, Saya sudah tahu” jawabnya datar.

Setelah itu, Bapak Mawardi Ismail bertanya kepada saya:

“Sekarang untuk apa kamu pergunakan beasiswa itu” tanyanya seperti yang pernah ditanyakan sebelumnya.

“Saya akan bayar SPP dan ikut kursus bahasa inggris Pak, seperti yang telah saya sampaikan waktu itu” jawab saya.

Ia mengangguk, saya pamit keluar dari ruangnya. itulah pertemuan pertama dan kedua saya dengan Pak Mawardi Ismail.

Sambil memberi “aba-aba” sudah boleh keluar dari ruangannya. Akhirnya, dengan kebijaksaan seorang pimpinan, yang dilakukan oleh sosok Mawardi Ismail, saya dapat menyelesaikan kuliah S1 dengan baik, ditambah dapat membayar mengikuti kursus bahasa inggris.

Hari itu, dengan bekal beasiswa 25.000/bulan itu pula atas jasa-jasa kebijaksanaan Bapak Mawardi Ismail, saya dengan mudah dapat melanjutkan studi S2 di UAI Malaysia.

Karena kebijaksaannya pula, dengan bekal kemampuan berbahasa inggris hasil kursus  beasiswa itu, telah menghandarkan saya berkunjung ke Eropa, Asia, Timur Tengah dan Afrika.

Itulah kehendak Allah, melalui sosok Mawardi Ismail memberi jalan kebaikan untuk saya, supaya keluar dari derita kemiskinan dan ketidakmampuan membiayaai pendidikan. Allah selalu membuat kejutan bagi hambanya, untuk selalu bersyukur dan rendah diri. Allah pula yang melahirkan Mawardi Ibrahim ke dunia ini, untuk berbuat baik kepada saya, keluar dari jalur kemiskinan.

Dengan pengalaman interaksi seperti itu, tidak berlebihan rasanya, jika saya menggambarkan  sosok Mawardi Ismail, tidak hanya sebagai dosen dan pimpinan di Fakultas Hukum Unsyiah. Akan tetapi lebih dari itu, sudah saya anggap sebagai orang tua yang bijak dalam perjalanan hidup ini.

Baca Juga:  Satu Dekade Persahabatan dengan Profesor Bahrein T. Sugihen

Mawardi Ismail: Dosen Ahli Segalanya.

Sejatinya Mawardi Ismail adalah dosen ahli bidang perdata, tapi dalam pendangan saya, beliau sebenarnya adalah sosok dosen ahli segalanya untuk Aceh saat ini.  Beliau malang melintang dalam dunia akademik, pemerintahan, politisi dan pernah juga pernah bergerak dalam beberapa bidang perekonomian dan perdagangan.

Berdasarkan pengalaman berguru dan berteman dengan Bapak Mawardi Ismail, setidak saya memiliki beberapa alasan mengatakan beliau ahli segalanya.

Pertama, Pj Mustafa Abu Bakar kepicut menjadikan Mawardi Ismail sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Aceh ketika itu. Ceritanya, setelah Pak Mustafa Abu Bakar dilantik menjadi Pj Gubernur Aceh, saya yang telah memiliki hubungan dengan Pak Mustafa meminta menghadap beliau. Lalu saya diutus oleh beliau untuk menemui Pak Mawardi dan meminta kesediaannya menjadi Sekretaris Daerah (Sekda). Ketika saya sampaikan pesan Pak Mustafa kepada pak Mawardi, beliau menjawab tidak bersedia. Karena jabatan Sekda itu tidak boleh berbicara apa adanya, tapi harus bersikap dan bertindak karena maunya.

Saya sampaikan kepada Mustafa Abubakar, bahwah Mawardi Ibrahim tidak bersedia di calonkan menjadi Sekda. Awalnya, Mustafa Abubakar kecewa terhadap penolakan tersebut. Namun, dalam beberapa pertemuan saya dengan Mustafa Abubakar selalu beliau ingat dengan sosok Mawardi Ismail. Karena, menurut Mustafa Abubakar, Mawardi itu bicara apa adanya, bukan bicara karena maunya. Kalau berbicara, Mawardi selalu membedakan antara keinginan dengan ketentuan. Jika diminta pendapat, beliau selalu berbicara berdasarkan ketentuan perundang-undangan bukan keinginan.

Inilah, menurut saya yang menjadi Mawardi Ismail sebagai dosen ahli segalanya. Ketika orang lain cenderung berbicara berdasarkan  keinginan bukan ketentuan, maka Mawardi Ismail tampil dengan berbicara berbasis ketentuan yang berlaku dalam segala disiplin keilmuan. Baginya, setiap prinsip pribadi, keinginan itu harus disesuaikan dengan ketentuan, bukan malah sebaliknya, nilai-nilai akademis melekat dalam tindakannya.

Kedua adalah pada pengalaman lain, ketika Mawardi Ismail terlibat dalam mengawal sejumlah perundang-undangan hasil turunan Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh pada masa Gubernur Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar. Sayangnya, sampai berakhir pemerintahan Irwandi-Nazar ini tahun 2012, belum semua turunan perundang-undangan disetujui oleh pemerintah pusat.

Ketika Pemerintah Aceh berganti dari Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar kepada Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf, setelah mereka dilantik pada bulan ke enam pemerintahan mereka, saya diminta menjadi salah seorang tim asistensi oleh Gubernur Zaini. Setelah penunjukan itu, saya memberi tahu Mawardi Ismail. Lalu beliau mengatakan:

“Adli, kalau kita berpikir untuk kebaikan pemerintahan ini, harus kita bantu. Usia saya sudah lanjut, kamu harus berperan, tanyoe bek meutajo, jaga sikap” Katanya.

Baca Juga:  KECAMATAN "A LA" ACEH

Itulah nasehat Mawardi Ismail kepada saya. Karena nasehat itu pula, sejumlah strategi komunikasi tim Aceh dengan tim Jakarta dirubah. Karena nasehat itu pula, saya memberi masukan kontruktif kepada Gubernur Zaini Abdullah untuk mengubah cara berkomunikasi dengan tim Jakarta, dari hard menjadi soft.

Saya ingat betul, beberapa kali, setiap minggunya, saya memakai handphone Gubernur Zaini Abdullah untuk mengetik SMS untuk dikirim kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla, tentu atas izin Gubernur Zaini Abdullah. Subtansi ketikan SMS, tak lepas dari nasehat-nasehat Mawardi Ismail, untuk mengawal setiap detik turunan UU Pemerintah Aceh, dan merubah skema komunikasi dengan Jakarta, tidak boleh kram krum. Selalu diingatkan.

Alhamdulillah beberapa PP terbit dalam periode Zaini Abdullah, termasuk yang terbaru adalah PP Nomor 23 tahun 2015. Lahirnya Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) adalah legesi Zaini Abdullah, tapi tak bisa juga melupakan nasehat Mawardi Ismail, melalui saya untuk selalu dikawal dalam setiap prosesnya. Karena memang, setiap ada kendala dalam perspektif hukum saya selalu berkonsultasi dengannya. Pada saat yang sama beliau juga sealu mengawal, memberi kritikan terhadap ide-ide saya supaya tidak melenceng.

Alasan ketiga adalah dalam beberapa pertemuan/rapat penting dengan stakeholders, saya dan Mawardi Ismail pernah mengikutinya bersama-sama. Sebagai orang muda dari usia Pak Mawardi, tentu pikiran-pikiran yang saya sampaikan terkadang amat bersemangat dan menggebu. Sebaliknya, beliau mengemukan pandangannya dengan tenang dan bernas. Walaupun saya terlalu bersemangat, dan saya akui beberapa pikiran ada yang melenceng. Tapi Pak Mawardi tetap membela, misalnya dengan mengatakan saya sebagai “ahli masa lalu”.

Namun, ketika pertemuan selesai, Pak Mawardi memanggil saya dan mengajari bagaimana seharusnya saya lebih menghargai dan menghormati orang lain. Beliau mengatakan”

Di depan orang yang belum kita kenal, wibawa harus dijaga, karena dalam kewibaan itu terdapat strategi untuk mencapai hasil.

Akhirnya, bagi saya, terutama dalam kajian keilmuan hukum, Mawardi Ismail adalah suhu. Kemanapun, dalam kondisi apapun, saya selalu meminta fatwanya. Waktu memang terus berjalan, pemikiran-pemikiran Pak Mawardi terus menghiasi  berbagai-bagai ruang ilmu di Aceh. Meskipun Pak Mawardi telah memasuki masa purna bakti di Fakultas Hukum Unsyiah, tetapi ilmu yang beliau wariskan terus akan berkibar dan dikibarkan oleh murid-muridnya.

Pemerintahan telah berganti-ganti, namun beliau tetap eksis sampai kapanpun dalam keadaan bagaimanapun, ini tidak terlepas dikarenakan kemampuan mengaplikasikan konsep antara ketentuan dan keinginan.

Dan jangan pernah melupan juga, bahwa Mawardi Ismail telah menjadikan kemiskinan yang saya alami menjadi sejarah, persis seperti dikatakan Nelsen Mandela di atas, Make Proverty History. [Sumber; Dalam Buku Mawardi Ismail Intelektual Organik]

 

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...