Take a fresh look at your lifestyle.

Dilema Bioetika Era Kecerdasan Buatan

0 601

Oleh: Novendra Deje.
Analis Geopolitik di Komunitas Studi Agama dan Filsafat (KSAF).

Sadarkah Anda, bahwa kita tengah menuju ke arah masa depan yang dimana porsi kerja-kerja cerdas manusia akan semakin berkurang, diambil alih oleh mesin yang memiliki karakteristik kecerdasan layaknya manusia. Mesin komputasi robot digital memiliki kemampuan dalam hal penalaran, penemuan makna, melakukan generalisasi atau menarik pembelajaran dari pengalaman masa lalu. Walaupun sejauh kemajuannya hingga hari ini, belum mencapai kemampuan untuk menyaingi tingkat fleksibelitas manusia dalam cakupan yang lebih luas.

Pada awal revolusi industri dan tahapan perkembangannya, berbagai bidang pekerjaan manusia yang berhubungan dengan tindakan fisikal, mulai digantikan oleh mesin-mesin yang mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan itu secara lebih efektif dan efisien. Bukan hanya efektif dari sisi skala kuantitas dan waktu, tapi juga menyentuh aspek kualitas hasil. Dan dari itu pula memunculkan masalah pola relasi ekonomi yang berhubungan dengan isu moral, yaitu terkait dengan isu keadilan tatanan sosial.

Manusia era modern ditantang harus mengeksplorasi kecerdasannya demi dapat terus memiliki peran di celah ruang tersisa, yakni ruang yang masih mengandalkan kecerdasan manusia secara langsung. Namun hari ini, pekerjaan-bekerjaan di ruang itu pun telah mulai dapat digantikan oleh mesin. Tidak lagi sebatas aspek pekerjaan fisik, tetapi mesin yang diberkahi kecerdasan buatan itu telah mampu berpikir rasional seperti halnya manusia. Lalu apa lagi ruang yang masih tersisa bagi peran dominan manusia, ketika mesin telah siap dan kecerdasannya secara bertahap terus berkembang hingga menjangkau lebih banyak ranah kehidupan di bumi.

Perkembangan peradaban manusia di bidang sains dan teknologi telah sedemikian majunya, dengan tingkat lompatan percepatan yang begitu memukau. Salah satu bagian dari faktor yang menentukan bagi rancangan masa depan global, adalah pencapaian di bidang Artificial Intelligence (AI), atau yang sebelumnya saya sebut dengan istilah “kecerdasan buatan.” Pencapaian teknologi di bidang ini telah mengarah kepada tahap yang makin menyempurnakan kemampuan mesin untuk analog dengan sisi kecerdasan manusia.

Pada banyak bidang kehidupannya yang semakin kompleks, manusia sangat terbantu oleh kehadiran AI, dengan layanan yang lebih cepat, instan, prima, efektif dan efisien. Kecerdasan buatan, layaknya alat yang punya kesadaran, baik dari sisi berpikir dan bertindak, serta semakin cerdas dalam membaca kecendrungan dan merespon apa yang anda inginkan. Sebut saja google sebagai contoh, yang hari ini adalah pemilik layanan berbasis AI terbesar dan menjangkau dalam skala paling luas. Kita benar-benar merasakan bagaimana mesin yang bekerja dengan basis data dan operasi algoritmanya tampak memahami apa yang kita cari dan inginkan.

Namun di sisi yang lain, AI juga akan menghadapkan kita pada suatu tantangan yang tak kalah serius, yaitu yang berkaitan dengan dilema moral, atau spesifiknya dilema dalam ranah bioetika. Hal yang saya maksud adalah soal sejauh mana kendali manusia-nya dalam membuat keputusan-keputusan arah orientasi dan pemanfaatannya, mengacu pada estimasi nilai bioetika (etika kehidupan). Sejak dini kita telah harus menunjukkan kepedulian pada kemungkinan-kemungkinan bias dari tiap tahapan pencapain AI.

Bagaimana pun, perkembangan paling maju di bidang sains komputer ini, sebagai suatu tahapan pencapaian dalam teknologi, tidak pun dapat dibendung. Kita tidak dapat melarang AI untuk berkembang lebih jauh dan memiliki kemampuan untuk dioperasikan di tiap lini kehidupan manusia, hanya karena ketakutan atas dampak negatif yang mungkin ditimbulkannya. Akan tetapi, suka tidak suka, kita “dipaksa” untuk terlibat mendalaminya lebih jauh, dan bahkan secara strategis perlu menguasainya pada batas paling maksimal yang mungkin untuk dicapai.

Hal ini soal “who man behind the gun,” begitu saya melihat dan memposisikan persoalan ini. Seperti halnya kita berhadapan dengan suatu tahap perkembangan sains dalam bidang teknologi nuklir. Bagaimana pun, rentang sejarah manusia pernah disuguhkan fenomena daya rusak teknologi mutakhir ketika itu, saat dimana Amerika Serikat menjatuhkan bom nuklirnya di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Alih-alih mempersalahkan pencapaian tekonologi nuklir itu sendiri, saya lebih cendrung memposisikannya sebagai masalah moral para pengendali teknologi itu sendiri.

Baca Juga:  Akankah China-Rusia Bakal Masuk Jebakan Rawa Perang Asimetris dan Bom Waktu AS di Afghanistan?

Teknologi nuklir nyatanya juga telah banyak digunakan secara positif melayani kehidupan manusia dalam berbagai bidang. Pencapain saintifik di bidang ini telah melayani manusia atas butuhan sumber energi bersih dalam kapasitas besar dan efisien. Bahkan dunia medis pun telah begitu dekat dengan teknologi nuklir. Kita pun tak dapat menghalangi perkembangan objektif yang terus dicapai dalam sains nuklir, hanya karena terteror oleh pengalaman terkait dampak buruk tragedi kemanusiaan yg pernah terjadi.

Sebelum melangkah lebih jauh di jalan tujuan analisis kita, baiknya kita terlebih dahulu memahami sekilas tentang apa, bagaimana dan kemana tujuan (formal) AI. Hal ini juga akan membantu kita untuk bisa mengurai dan memahami lebih jauh terkait dampak-dampak yang mungkin dapat ditimbulkan dari keberadaan AI dan pola operasinya pada berbagai sisi kehidupan manusia.

Pengetahuan Dasar Tentang AI
Meskipun belum ada defenisi tunggal yang punya cakupan universal mengenai Artificial Intelligence sejauh ini, pengertian paling luas diterima hingga saat ini adalah sebagai cabang sains komputer, terhubung dengan pembuatan mesin cerdas yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya sangat bergantung pada kecerdasan manusia. Kemajuan dalam hal pembelajaran secara mendalam atas mesin telah pun mendorong terjadinya perubahan paradigma di hampir setiap ranah teknologi industri. Dengan demikian, AI juga mencirikan dirinya sebagai ilmu interdisipliner atau multi pendekatan.

Jika kita merujuk pada buku yang ditulis oleh Stuart Russell dan Peter Norvig, yakni “Artificial Intelligence: A Modern Aproach,” maka AI dipahami sebagai agen kecerdasan dalam mesin. Dimana dari itu AI dapat dipahami sebagai agen yang menerima persepsi dari lingkungan dan juga melakukan tindakan. Kedua penulis itu lebih jauh menggali empat pendekatan studi AI; (1) berpikir secara manusiawi, (2) berpikir secara rasional, yang keduanya berkaitan dengan proses penalaran. Sedangkan dua yang lain, yaitu (3) bertindak manusiawi dan (4) bertindak secara rasional, berkaitan dengan perilaku.

Meninjau dari sisi historisnya, kehadiran dan perkembangan AI masih berkisar pada menjawab pertanyaan Alan Turing. Sang maestro logika matematika itu sebelumnya telah berhasil memecahkan kode enskripsi mesin Enigma milik Nazi. Keberhasilan itu sekaligus menjadi bantuan paling signifikan darinya untuk Sekutu memenangkan Perang Dunia ke-II. Selanjutanya, untuk kedua kalinya, ia mengubah jalannya sejarah dedikasi ilmu komputer dengan suatu pertanyaan sederhana, “bisakah mesin berpikir?”

Satu makalah pentingnya yang secara luas dikutip, terbit tahun 1950, berjudul “Computing Machinery and Intelligence,” Turing menegaskan tujuan dan visi dasar AI yang berporos pada memberi jawaban dari pertanyaan pokok sederhananya tersebut. Dari itu, ia melanjutkan penelitiannya dengan berbagai uji coba. Mengenai “kecerdasan” yang dimaksud adalah keseluruhan perilaku manusia yang kompleks, dengan mengecualikan perilaku sederhana yang tidak memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan-perubahan situasi.

Jika kita tinjau dari sisi pandang psikologi, kecerdasan dipahami sebagai perilaku yang dihasilkan dari berbagai kombinasi kemampuan. Atau ringkasnya, aspek-aspek kemampuan dalam hal belajar, penalaran, pemecahan masalah dan juga dalam hal penggunaan bahasa beserta artikulasinya. Ketika sistem telah mampu analog dengan kecerdasan dalam pengertian psikologi, maka AI akan sangat menyerupai manusia dari sisi kecerdasan, bahkan artikulasinya pada bidang tindakan aktual.

Kecerdasan buatan dalam hal belajar memiliki penerapan sejumlah bentuk yang berbeda-beda. Dan yang relatif sederhana serta mudah adalah melalui aktifitas coba-coba, sebagaimana sistem komputasi bisa memecahkan masalah dalam permainan catur. Percobaannya dengan membuat gerakan sembarang hingga ditemukan kecocokan dengan langkah-langkah catur, untuk kemudian komputer mungkin menyimpannya sebagai pengingat solusi. Dan pada saat program komputer bertemu dengan masalah yang sama, ia akan mengingat solusi yang tersimpan di memorinya. Inilah yang disebut pembelajaran poin-poin hafalan dan prosedur khusus yang sederhana dalam AI.

Baca Juga:  Sebagai Intelektual, Anda Mau Jadi Apa? Peneliti? Pemikir? Filsuf?

Jenis yang lebih rumit adalah tantangan pada pembelajaran generalisasi yang melibatkan penerapan berbagai pengalaman masa lalu ke situasi analogi baru. Kita mengambil contoh suatu tata bahasa semisal bahasa Indonesia, dimana terjadi perubahan pola-pola reguler dari suatu kata benda menjadi kata sifat. Seperti kata “manusia” yang program komputer tidak mengenali solusi penerapannya saat harus berubah menjadi kata “kemanusiaan” ketika masih sebatas tingkat pembelajaran hafalan. Kemampuan generalisasi telah membuat kecerdasan buatan mampu belajar tentang bagaimana mengenali pola semisal terjadinya penambahan ataupun penghilangan “ke” dan “an” dalam setiap konteksnya.

Lalu, yang lebih rumit dari itu soal bentuk penalaran dan metode penarikan kesimpulan, sebagai tahap kemampuan kecerdasan buatan yang lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan dua bentuk aktifitas penalaran yang manusia gunakan, yaitu deduksi dan induksi. Premis-premis yang benar digunakan dalam metode deduksi mengkonsekuensikan kesimpulan yang niscaya, sebagaimana kerumitan dalam struktur teorema yang dibangun dari sekumpulan aksioma dan aturan dasar. Sedangkan pada metode induksi, prosesnya tidak demikian. Dalam induksi, kebenaran premis hanya memberi dukungan pada kesimpulan, tanpa jaminan mencapai nilai kemutlakan.

Deduksi merupakan prosedur penalaran dan penarikan kesimpulan yang berlaku umum pada bidang logika dan matematika. Terkait induksi, itu merupakan cara kerja sains, dimana terjadi proses pengumpulan dan koleksi data. Dan dari itu kemudian model tentatif dikembangkan, untuk menggambarkan dan memprediksi perilaku masa depan, hingga sampai pada munculnya data tidak wajar (anomali) yang mengharuskan tindak merevisi model.

Mengenai pemecahan masalah — dalam kecerdasan buatan — terdiri dari dua metode, yaitu penentuan tujuan umum dan tujuan khusus. Pada masalah tertentu yang dituju, dibuat metode khusus yang lazim mengeksploitasi fitur sangat spesifik dari situasi di mana masalah itu tersimpan. Sedang tujuan umum ditargetkan untuk berbagai masalah. Salah satu teknik yang diterapkan pada masalah umum adalah sarana akhir, berkaitan dengan langkah-langkah peningkatan, pengurangan perbedaan antara keadaan saat ini dan tujuan akhirnya, dimana program memilih daftar sarana hingga tercapainya tujuan. Lalu ada hal mengenai “persepsi” dan juga “bahasa,” yang dimana AI hari ini telah menunjukkan tingkat kemampuan aplikasi yang luar biasa.

Catatan paling penting kita untuk memahami formula AI bekerja adalah dengan merujuk pernyataan dari Frank Chen. Ia menyebut bahwa AI adalah sekumpulan algoritma (matematika) dan kecerdasan untuk upaya meniru kecerdasan pada manusia. Disinilah kebutuhan penguasan big data yang berproses dengan teknik statistik.

Jika ditanya tentang apa saja pekerjaan yang — sebelumnya butuh ditangani oleh manusia secara langsung — kini dapat digantikan oleh AI? Dengan sangat mengejutkan, AI bahkan dapat bekerja seperti layaknya seorang ilmuan, mendedikasikan kecerdasannya dalam bidang kepakaran atau disiplin ilmu tertentu. Saya kira ini suatu tingkat tertinggi dari fungsi AI, terkait kemampuannya yang dapat menggantikan peran para saitis. Namun sekali lagi saya tegaskan, hingga saat ini belum bisa mencapai tingkat fleksibelitas layaknya manusia.

Kemampuan pemodelan generatif dari sistem komputasi kini telah membuat banyak saintis bergantung bantuan pada AI. Seperti saraf tiruan, dimana jaringan neoron disimulasikan oleh komputer

untuk meniru fungsi otak pada manusia. Sehingga dapat mengurai tumpukan data sedemikian terpilah dan detil, menyoroti ketimpangan (anomali) dan mendeteksi pola yang bahkan sampai pada tingkat tak pernah dapat terlihat oleh manusia yang hanya bekerja dalam dua metode, yaitu observasi dan simulasi. Karena itu, penelitian dalam bidang astrofisika kini begitu massif melibatkan AI untuk menarik pemodelan generatif pada perlintasan prediksi, dengan mengandalkan kerjanya pada basis data dan operasi algoritmatik.

Baca Juga:  Uang, Suku Bunga dan Ekonomi Islam

AI dan Problem Bioetika
Tentu masih banyak pekerjaan lain yang kini tidak lagi bergantung pada peran manusia secara langsung. Sepertinya AI akan terus mencaplok peran manusia, tidak hanya pada pekerjaan fisik, tetapi pada jenis-jenis yang bertumpu pada peran kognisi, sebagaimana telah kita sebutkan contohnya di atas. Hanya butuh segelintir manusia untuk bekerja pada sistem kendali. Sedang yang lainnya harus mengerjakan apa, baik dari sisi mengasah pengalaman, membuat keputusan-keputusan atas nilai dan pilihan tindakan, maupun yang terkait dengan distribusi kekayaan ekonomi.

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, bahwa capaian tiap tahapan perkembangan sains dan teknologi itu semacam keniscayaan yang tak dapat dibendung. Seiring rasa penasaran manusia itu sendiri untuk mengungkap berbagai misteri jagat wujud serta pemanfaatannya sejauh yang mungkin dicapai manusia, maka sains akan terus berkembang dan teknologi pun tercipta. Intinya, sains dan teknologi itu sendiri relatif netral dari aspek moral, kecuali dalam proses penemuan dan penciptaannya ada pelanggaran terhadap hak-hak yang seharusnya di hormati.

Isu moral terkait AI ada pada keputusan-keputusan dalam penggunaan dan pemanfaatannya. Setiap keputusan ada di tangan manusia sebagai subjek pengendali. Sebab manusialah yang menjadi sumber motif dan tujuan dalam pemanfaatan AI. Artinya, baik dan buruknya hal-hal yang mungkin ditimbulkannya, itu masih sangat erat bergantung pada faktor tanggung jawab manusia sebagai pengendali tujuan dan pemanfaatan.

Modal terbesar yang mensupport kapabilitas kecerdasan dan tindakan AI adalah penguasaan ataupun akses kepada big data. Bagi perusahaan-perusahaan E-Commerce, big data itu dipandang semacam cadangan emas pengendali standard nilai mata uang. Bayangkan bagaimana raksasa digital online seperti Google, Facebook dan Amazon sebagai pihak yang kini menjadi pengumpul data terbesar. Ketika pihak-pihak yang punya kuasa akses pada big data ini memiliki motif-motif amoral seperti kerakusan, maka akan terjadi penyalah gunaan seperti halnya tindak monopoli.

Kehadiran AI membuat kita harus berpikir ulang terkait hukum distribusi kekayaan ekonomi, tentang relasi dan model interaksi diantara manusia itu sendiri, kesalahan-kesalahan buatan yang mungkin terjadi pada AI dan dampaknya. Di atas semua itu, tentu soal singularitas, dimana manusia mungkin — pada tahap tertentu nantinya –tak lagi dapat mengambil kendali penuh atas AI yang telah mencapai tingkat kemandirian dalam kecerdasan. Saat dimana manusia tidak lagi berada di puncak matarantai kecerdasan.

AI hari ini pun tampak dapat dimaksimalkan perannya dalam kancah pertarungan politik dan ekonomi, baik ditingkat lokal, regional dan juga global. Seperti pisau bermata dua, AI dapat didekasikan kemana saja arahnya, bergantung motif dan tujuan para pengendali gagangnya. Jika mereka memiliki komitmen yang rendah pada penegakan nilai bioetika, maka AI menjadi ancaman terbesar bakal terjadinya banyak tragedi kemanusiaan. Dan akan berkonstribusi positif pada penyanggaan peradaban manusia, ketika masih ada komitmen pada bioetika yang kuat dari para pengendalinya.

Bagaimana pun, AI tetap beroperasi berdasarkan setting sistem di bawah kendali manusia. Mereka dapat berupa kalangan moralis maupun yang amoral. Bagi yang punya komitmen kuat pada nilai bioetika, maka AI akan diupayakan secara maksimal dapat melayani kehidupan dengan prinsip-prinsip peradaban yang adiluhung. Sedangkan yang tidak punya komitmen bioetik, AI akan menjadi kuda tunggangan mereka dalam mengejar hasrat-hasrat kepentingan, hingga melabrak tatanan kepatutan, serta menghadirkan risiko kehancuran massif peradaban kemanusiaan.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...