Take a fresh look at your lifestyle.

BUKU TERBAIK SEPANJANG 2020

0 17

Oleh: Nanda Winar Sagita.
Penulis Lepas dan Guru Sejarah SMAN 6 Takengon, Aceh Tengah.

Efek pandemi membuat saya kembali akrab dengan buku. Saya lebih sering berada di rumah, dan itu adalah salah satu sisi baiknya. Telah 40 lebih buku yang saya tuntaskan tahun ini dan kebanyakan sudah lama masuk daftar antri.

Terlalu sukar untuk memilih 7 judul yang terbaik versi saya. Tapi saya sudah melewati bagian paling sukar itu. Seperti biasa, urutan tidak menentukan kualitas:

THE SENSE OF AN ENDING, JULIAN BARNES
Bagaimana rasanya dihantui kenangan masa muda di saat sudah tua? Tony Webster tahu jawabannya! Buku ini terdiri dari dua bagian, yang mana bagian pertama terdiri dari fragmen masa muda Tony Webster dan teman-temannya sampai salah seorang dari mereka bunuh diri; sedangkan bagian dua fokus pada masa tua Tony Webster dan kaitannya dengan masalah bunuh diri temannya itu. Julian Barnes sangat piawai menyusun kisah-kisah terpotong di bagian awal menjadi utuh di bagian akhir.

JERUSALEM, SIMON SEBAG MONTEFIORE
Tidak ada tempat di dunia ini yang disakralkan oleh begitu banyak agama selain Yerusalem. Dengan mengandalkan dogma dari kitab suci masing-masing, tiga agama abrahamik–Yahudi, Kristen, dan Islam–bertikai hanya untuk memilikinya. Kompleks dan kronologis. Mungkin buku paling lengkap tentang sejarah kota itu, jauh lebih lengkap ketimbang yang ditulis oleh Karen Armstrong. Isinya menyibak sejarah Yerusalem yang dimulai sejak era kuno sampai era modern (Oia, buku Stalin karya Simon Sebag Montefiore ini juga punya sensasi luar biasa saat dibaca).

A HORSE WALKS INTO A BAR, DAVID GROSSMAN
David Grossman adalah warga Israel yang pernah diserang polisi Israel saat sedang berdemo menolak pemukiman Yahudi di wilayah Palestina. Itu terjadi pada 2010. Sejak kematian anaknya, dia tetap kritis pada negaranya, dan buku yang bercerita dengan teknik tidak biasa ini salah satu buktinya. Ada dua orang yang bercerita di buku ini, jika Dovaleh G mengoceh dari atas panggung kepada penonton yang menyaksikan stand-up comedy yang dia tampilkan; maka Avishai Lazar, temannya yang duduk di bangku paling belakang, mengoceh kepada kita para pembaca. Alur utamanya hanya terjadi dua jam, dan di selingi dengan kilas balik pada masa lalu kedua pencerita kita. Mulanya lelucon yang dilontarkan oleh Dovaleh G memang lucu (ala-ala lawakan lelaki paruh bayalah!) tapi lama-lama dia terjebak oleh kepedihan hidupnya sendiri. Penonton protes, memakinya, dan satu per satu pergi meninggalkannya. Dari membicarakan seorang bibir perempuan yang dioperasi di pusat tenaga nuklir, dia akhirnya membicarakan Holocaust, konflik Israel-Palestina, sampai urusan rumah tangganya. Walhasil: hanya dalam beberapa menit saja, Dovaleh G yang dicintai, berubah jadi dibenci; dan hanya dalam beberapa menit saja, pertunjukan stand-up comedy berubah menjadi pertunjukan stand-up tragedy.

Baca Juga:  Mengapa Buku Denys Lombard Penting untuk Dipelajari?

AGAMA VS AGAMA, ALI SYARIATI
Saya pertama kali mengenal Ali Syariati dari mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam. Membaca karyanya membuat saya percaya bahwa Syiah juga punya semangat keislaman tinggi sebagaimana Sunni. Buku ini adalah kumpulan dua pidatonya tentang bagaimana musuh agama yang sebenarnya bukan dari orang beragama, melainkan dari sesama orang beragama. Kita mengamini itu: Ibrahim vs Nimrod si Penyembah Berhala, Musa vs Firaun si Penyembah Dewa, Isa vs Yahudi, Muhammad vs Pagan, Katolik vs Protestan, Sunni vs Syiah, Hindu vs Buddha, Hindu vs Islam, Buddha vs Islam… dst. Bahkan menurutnya orang ateis sebenarnya juga ‘beragama’, sebab mereka masih punya kepercayaan yang tidak dipercayai oleh orang beragama. Ali Syariati adalah salah satu ideolog Revolusi Islam di Iran. Berkali-kali di penjara sampai akhirnya mati dengan cara misterius. Meski bersekte Syiah, ide yang dia tuangkan dalam tulisannya, baik tentang sosiologi atau agama, sangat universal. Dan itulah yang membuat saya menyukainya. Posisinya mungkin sama seperti Ibnu Sina: sekte yang dia imani dicaci oleh suara mayoritas, tapi kalau ada yang bicara tentang ilmuwan Islam hebat, maka namanya tidak akan luput dari daftar.

THE GOD OF SMALL THINGS, ARUNDHATI ROY
Sial bagi saya membaca dua novel Roy di tahun yang sama sehingga saya kesulitan untuk memilih mana yang lebih baik antara The God of Small Things atau The Ministry of Utmost Happiness. Yang pertama didominasi budaya Kristen di India, yang kedua budaya Islam. Setelah mempertimbangkan, saya lebih memilih kegetiran hidup Eshta dan Rahel si duo kembar fratenal ketimbang kegetiran hidup Anjum si hijra–jenis kelamin ketiga yang diakui di India (atas keputusan itu, maafkan saya kak Ida Fitri. Hehe). Membaca buku ini sama seperti minum segelas kopi wine (terasa sulit untuk dicecap, tapi nikmat). Mendaras rangkaian kisah Eshta dan Rahel memang terasa sulit untuk diikuti, sampai pada saat mereka berdua terjebak inses, di situlah puncak kenikmatannya.

Baca Juga:  Mengapa Buku Denys Lombard Penting untuk Dipelajari?

SAPI, BABI, PERANG DAN TUKANG SIHIR, MARVIN HARRIS
Marvin Harris sudah mengatakan sejak awal bahwa yang ditulisnya adalah cara paling masuk akal menjelaskan sesuatu yang terasa tidak masuk akal. Semacam penjelasan alternatif dari fenomena aneh. Isinya beragam, mulai dari kenapa Hindu pantang membunuh sapi, tapi Islam justru menjadikannya sebagai kurban; mengapa Islam dan Yahudi membenci babi, sedangkan ada suku lain yang sangat mencintainya, kenapa ada manusia yang dianggap suci dan dilakabkan sebagai juru selamat, dan fenomena budaya lain yang sangat menarik untuk diikuti. Marjin Kiri selalu selektif dalam memilih karya untuk diterjemahkan, dan buku ini salah satu buktinya.

THE PRAGUE CEMETERY, UMBERTO ECO
Niat Eco menulis buku ini adalah ingin membuat tokoh paling sinis sepanjang sejarah sastra, dan melalui Simone Simonini (satu-satunya karakter fiksi dalam buku ini) dia berhasil melakukannya. Saya sepakat dengan kebanyakan kritikus yang menyatakan buku ini adalah karya terbaiknya setelah The Name of Rose. Di tangan Eco, sejarah selalu punya celah untuk ditertawakan. Nyaris semua hal yang disebut oleh Simone Simonini dalam buku ini menjadi objek kesinisannya. Tidak ada yang luput, bahkan tuhan sekalipun. Untuk novelnya, saya baru membaca The Name of Rose, Foucault’s Pendulum, Baudolino, dan buku ini (jadi masih ada 3 novel lagi yang belum), tapi saya akan mendaku diri sebagai seorang Ecoian (istilah macam apa itu?) sejati.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tunggu Sedang Loading...